Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

SeLaMat DaTanG di KanDang KuCingKu

HomeKusambut Kau Dengan Bunga Di Bawah Jendela Tuaku,,,,,,,,,,,,,,,,,,,Dec 16, 2006
aku memandang dari sebuah dari bawah jendela tua
ke luar cuaca. menulis sesuatu
suatu hari akan kita sebut sebagai kenangan
yang basah oleh hujan tadi malam.
padaku kawat kehidupan terikat
layak mawar
tepian pohon cadas
kengerian yang gersang.
porak-porandakan hatiku
siapapun kau_
aku akan menyebutnya belaian elang

kuucapkan selamat pagi untukmu. selamat malam untukmu
ketika kau telah selesai memimpikan impian zaman
caci aku
ucapkan apapun dalam nyanyianku

ini jendela
jendela tua tak bernama
kehadiahkan pada anak-anak kertas yang belum habis ditulisi puisi

VideoJan 6, '07 4:53 PM
for everyone



Download this and other original video files with Multiply Premium.

LinkJan 1, '07 2:18 PM
for everyone

Photo Albumswot & up gradingDec 31, '06 11:51 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
ssst

Blog EntryDec 31, '06 8:07 AM
for everyone

1949

WILLIAM FAULKNER untuk sumbangan kekuatan dan keunikan artistik pada novel Amerika mo-dern.

 1948

THOMAS STEARNS ELIOT untuk kege­mi­lang­annya, serta kepeloporannya dalam perpuisian masa kini.

 1947

ANDRÉ PAUL GUILLAUME GIDE untuk keluasan wawasan, signifikansi artistik, dan ketajaman pandangan psikologisnya yang merepresentasikan problema dan kondisi manusia, serta kecintaannya pada kebenaran yang tak kenal takut.

 1946

HERMANN HESSE untuk tulisan-tulisannya yang kaya inspirasi, merasuk, dan penuh keberanian, menjadi contoh cita ideal kemanusiaan dan ketinggian gaya sastra.

 1945

GABRIELA MISTRAL (nama pena LUCILA GODOY Y ALCA-YAGA ), untuk sajak-sajak puitis, diilhami oleh kekuatan emosi yang membuat namanya menjadi simbol aspirasi ideal dunia Amerika Latin.

 1944

JOHANNES VILHELM JENSEN untuk kekuatan dan kesuburan imajinasi puitik yang diramu dengan sebuah keingintahuan intelektual yang berskala luas dan berani, serta kesegaran gaya kreatif.

 

1943-1940 dana Nobel dialokasikan untuk dana utama (1/3) dan pendanaan khusus (2/3).

 1939

FRANS EEMIL SILLANPÄÄ untuk pemahaman mendalam atas dunia petani di negerinya, serta peng­gam­bar­an pandangan dunia mereka dengan alam dalam kehalusan artistik.

 1938

PEARL BUCK (nama pena PEARL WALSH SYDENSTRICKER ), untuk kekayaan dan kesungguhan penggambaran dan pengisahan kehidupan petani Cina, serta untuk adikarya biografisnya.

 1937

ROGER MARTIN DU GARD untuk kekuatan artistik dan kebenaran dalam menggambarkan konflik aspek fundamental manusia dalam kehidupan kontemporer dalam novelnya Les Thibault.

 1936 EUGENE GLADSTONE O'NEILL untuk ke­kuat­an, kehangatan, dan kedalaman rasa atas karya-karya dramatiknya yang mengejawantahkan konsep orisinal atas tragedi.

 1935 dana dialokasikan untuk dana utama (1/3) dan untuk dana khusus (2/3).

 1934

LUIGI PIRANDELLO untuk kegigihannya menghidupkan kembali kegemilangan seni drama dan pengisahan adegan.

 1933

IVAN ALEKSEYEVICH BUNIN untuk disiplin astistik yang berdasar pada tradisi penulisan prosa Rusia klasik.

 1932

JOHN GALSWORTHY untuk kegemilangan seni berkisah yang mencapai ketinggian bentuk dalam The Forsythe Saga.

 1931

ERIK AXEL KARLFELDT untuk sajak-sajaknya.

 1930

SINCLAIR LEWIS untuk seni berkisahnya yang dahsyat serta untuk kemampuannya dalam menciptakan tipe-tipe karakter baru dengan jenaka dan penuh humor

 1929

THOMAS MANN khususnya untuk novel besarnya Buddenbrooks, yang  berhasil menghidupkan sebuah karya klasik dalam sastra kontemporer.

 1928

SIGRID UNDSET khususnya untuk kekuatan deskriptifnya atas kehidupan daratan utara selama abad pertengahan.

 1927

HENRI BERGSON dalam kegemilangan, kekayaan, dan daya hidup ide-idenya.

 1926

GRAZIA DELEDDA (nama pena GRAZIA MADESANI née DELEDDA), untuk idealisme dan kedalaman simpatinya dalam penggambaran kehidupan penduduk asli secara plastis, yang berhasil mengangkat problem manusiawi secara umum.

 1925

GEORGE BERNARD SHAW untuk karya-karyanya yang ditandai oleh kegigihan idealisme dan rasa kemanusiaan, yang kesemuanya diwarnai nada satire dalam keindahan puitis yang khas.

 1924

WLADYSLAW STANISLAW REYMONT (nama pena REYMENT ), untuk kebesaran epos nasionalnya, Para Petani (The Peasants).

 

1923

WILLIAM BUTLER YEATS untuk sajak-sajaknya yang senantiasa inspiratif, yang dengan kebesaran bentuk artistiknya menghidupkan daya hidup semua bangsa.

 1922

JACINTO BENAVENTE untuk kesenangan dan kesantunan sebagai kelanjutan dari tradisi drama Spanyol.

 1921

ANATOLE FRANCE (nama pena JACQUES ANATOLE THIBAULT ), dalam menampilkan kege­milangan semangat sastrawi, ditandai dengan gaya yang anggun, menyuarakan simpati manusiawi, kegemilangan dan temperamen Galia yang sesungguhnya.

 1920

KNUT PEDERSEN HAMSUN untuk karya mo­numentalnya, Growth of the Soil.

 1919

CARL FRIEDRICH GEORG SPITTELER sebagai penghargaan khusus atas karyanya, Olympian Spring.

 

1918 dana dialokasikan untuk dana khusus.

 1917 Hadiah sastra dibagi merata kepada:

KARL ADOLPH GJELLERUP untuk sajak-sajaknya yang kaya dan variatif yang diilhami oleh citarasa yang besar, dan

HENRIK PONTOPPIDAN untuk penggambaran otentik atas kehidupan sehari-hari di Denmark.

 1916

CARL GUSTAF VERNER VON HEIDEN­STAM dalam pengambarannya yang bermakna dan wakil representatif era baru dalam sastra kita.

 1915

ROMAIN ROLLAND sebagai penghargaan atas ketinggian citarasa karya sastra dan untuk simpati dan kecintaan pada kebenaran lewat penggambaran berbagai tipe manusia yang berbeda.

 1914 dana dialokasikan untuk dana khusus.

 1913

RABINDRANATH TAGORE untuk syair-syairnya yang sensitif, segar dan indah, menghasilkan pemikiran puitis yang dieskpresikan dalam bahasa Inggrisnya sendiri sebagai bagian dari sastra Barat.

 1912

GERHART JOHANN ROBERT HAUPTMANN terutama untuk kesegaran, keragaman, dan kepiawaiannya dalam seni dramatik.

 1911

COUNT MAURICE (MOORIS) POLIDORE MARIE BERNHARD MAETERLINCK, sebagai penghargaan atas berbagai aktivitas sastranya, khususnya dalam karya dramatik, yang dengan gemilang dan kaya dengan imajinasi dan kecantikan puitis --serta kadang memanfaatkan dongeng-- secara misterius memikat dan menghidupkan imajinasi kita.

 1910

PAUL JOHANN LUDWIG HEYSE sebagai penghargaan atas kesempurnaan artistiknya, diramu dengan idealisme, yang ditunjukkannya selama karier produktifnya sebagai penyair liris, dramawan, novelis, dan cerpenis yang terkenal di seluruh dunia.

 1909

SELMA OTTILIA LOVISA LAGERLÖF sebagai penghargaan atas ketinggian idealismenya, kegemilangan imajinasi dan persepsi spiritual yang menandai tulisan-tulisannya.

 1908

RUDOLF CHRISTOPH EUCKEN dalam penggambarannya dan pencariannya yang penuh gairah akan kebenaran, dirasuki kekuatan pikiran, keluasan wawasan, dan kehangatan serta kekuatan yang ia tampilkan dalam banyak karyanya yang dibangun dengan pandangan hidup yang idealistik.

 1907

RUDYARD KIPLING dalam pertimbangan atas kekuatan pengamatan, orisinalitas imajinasi, kejantanan ide-idenya, dan bakat luar biasa yang menandai karyanya sebagai seorang penulis termashur.

 1906

GIOSUÈ CARDUCCI tidak hanya karena per­timbangan akan kesungguhan belajarnya, atau penga­matan kritisnya, melainkan --di atas segalanya-- sebagai peng­har­gaan atas daya kreatif, kesegaran gaya, dan kekuatan liris yang menandai adikarya puitisnya.

 1905

HENRYK SIENKIEWICZ karena kege­milang­an­nya dalam penulisan epos.

 

1904 Hadiah sastra dibagi merata kepada:

FRÉDÉRIC MISTRAL dalam penggambaran atas kesegaran orisinalitas dan kesungguhan inspirasi yang dengan berani mereflesikan pemandangan alam dan semangat purba masyarakatnya, serta signifikansi karya-karyanya sebagai seorang Provençal philologist, dan

JOSÉ ECHEGARAY Y EIZAGUIRRE atas pro­duk­ti­vitasnya dan garapannya yang dengan kemampuan kom­posisi yang gemilang, menghidupkan kembali tradisi besar drama Spanyol dengan gaya yang mempribadi.

 1903

BJØRNSTJERNE MARTINUS BJØRNSON sebagai penghargaan atas keanggunan, kegemilangan dan keluwesan sajak-sajaknya yang senantiasa ditandai oleh kesegaran ilhami dan kemurnian daya hidup.

 1902

CHRISTIAN MATTHIAS THEODOR MO­M­M­SEN, legenda hidup dalam penulisan sejarah, dengan me­ngacu pada karya monumentalnya, A history of Rome.

 1901

SULLY PRUDHOMME (nama pena RENÉ FRAN­ÇOIS ARMAND ), sebagai penghargaan atas kom­posisi puitiknya, yang memberi pembenaran atas ke­ting­gian idealisme, kesempurnaan artistik, dan kombinasi khas dan tak biasa antara keberanian jiwa dan inte­lek­tual­itas.

 


Blog EntryDec 31, '06 7:56 AM
for everyone

Acep Zamzam Noor dilahirkan di Tasikmalaya, Jawa Barat, 28 Februari 1960. Alumnus Seni Rupa ITB ini melanjutkan studinya di Universita Italiana per Stranieri, Perugia, Italia. Puisi-puisinya tersebar di berbagai majalah dan surat kabar dalam dan luar negeri (Malaysia). Kumpulan puisinya yang sudah diterbitkan antara lain: Tamparlah Mukaku (1982), Aku Kini Doa (1986), Kasidah Sunyi (1989), Dari Kota Hujan (1996), Di Luar Kata (1997), Di Atas Umbria (1999). Selain itu karyanya dimuat pula dalam sejumlah antologi, seperti: Antologi Pesta Sastra Indonesia (1987), Tonggak 4 (1987; Linus Suryadi AG [ed.]), Ketika Kata Ketika Warna (1995).


Afrizal Malna dilahirkan di Jakarta, 7 Juni 1957. Selain tersebar di berbagai media massa, karya-karyanya dikumpulkan dalam: Abad yang Berlari (1984; mendapat pujian Dewan Juri Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta 1984),  Mitos-mitos Kecemasan (1985), Yang Berdiam dalam Mikrofon (1990), Arsitektur Hujan (1996; memperoleh penghargaan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud RI), Kalung dari Teman (1999), Sesuatu Indonesia (2000). Ia memberi pengantar sejumlah buku para sastrawan segenerasinya, seperti: Juniarso Ridwan, Made Wianta, Soni Farid Maulana, Kriapur, Jamal D. Rahman, Dorothea Rosa Herliany.


Agus Noor dilahirkan di Tegal, Jawa Tengah, 26 Juni 1968. Menulis cerita pendek dan esai, dan dipublikasikan antara lain di Horison, Kompas, Jawa Pos. Karya-karyanya: Bapak Presiden yang Terhormat (1999) dan Memorabilia (2000). Selain  itu, tersebar di berbagai antologi, antara lain: Lukisan Matahari (1993), Lampor (1994; kumpulan cerita pendek terbaik Kompas).


Agus R. Sarjono dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, 27 Juli 1962. Menulis puisi  dan esai. Karya-karya penyair yang juga redaktur majalah sastra Horison ini antara lain: Puisi dan Beberapa Masalahnya (1993; [ed.]), Kenduri Air Mata (1994), Sastra Indonesia dalam Empat Orde Baru (2001), Bahasa Indonesia dan Bonafiditas Hantu (2001), Suatu Cerita dari Negeri Angin (2001; edisi bahasa Inggris: A Story from the Country of the Wind). Karya-karya terjemahannya: Kepada Urania (1998; Joseph Brodsky) dan Impian Kecemburuan (1998; Seamus Heaney). Selain itu, karya-karyanya tersebar di berbagai antologi di dalam dan luar negeri.


Ahmad Syubbanuddin Alwy dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 26 Agustus 1962. Kumpulan puisinya, Bentangan Sunyi, diluncurkan pada 1996. Selain itu, karya-karyanya termuat dalam beberapa antologi, seperti Puisi Indonesia 1987, Titian Antar Bangsa (1988), Negeri Bayang-bayang (1996), Cermin Alam (1997).


Ahmadun Yosi Herfanda dilahirkan di Kendal, Jawa Tengah, 17 Januari 1956. Selain menyair dan menulis cerpen dan esai, lulusan FKSS IKIP Yogyakarta ini jadi wartawan dan redaktur di berbagai media, antara lain di buletin Warastra, buletin Intra, suratkabar Kedaulatan Rakyat, Yogya Post, majalah Sarinah, dan terakhir di harian Republika. Karyanya tersebar di berbagai koran tanah air, dan termuat dalam berbagai antologi bersama. Belasan buku kumpulan puisinya sudah terbit, terakhir, 1996: Sembahyang Rumputan dan Fragmen-Fragmen Kekalahan.


Ayu Utami dilahirkan di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968. S-1 Sastra Rusia dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Pernah bekerja sebagai wartawan Matra, Forum Keadilan, dan D & R. Sepanjang 1991 menulis kolom mingguan “Sketsa” di harian Berita Buana. Esai-esainya kerap dipublikasikan di jurnal Kalam. Novelnya, Saman, memenangkan Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Kini bekerja sebagai redaktur jurnal Kalam.


Beni Setia dilahirkan di Soreang, Jawa Barat, 1 Januari 1954. Ia menulis dalam bahasa Sunda dan Indonesia, berupa puisi, cerpen, artikel, esai, dan tersebar di berbagai media massa. Karya-karyanya: Legiun Asing: Tiga Kumpulan Sajak (1987), Dinamika Gerak (1990), dan Harendong (1996).


Bre Redana  dilahirkan di Salatiga, Jawa Tengah, 27 November 1957. Wartawan Kompas sejak 1982 ini pada 1990-91 menimba ilmu jurnalistik di School of Technology, Darlington, Inggris. Tulisannya tersebar di Kompas, Suara Pembaruan, dan lain-lain. Kumpulan cerita pendeknya yang telah diterbitkan adalah:  Urban Sensation (1993) dan Dongeng untuk Seorang Wanita (1999). Selain itu karyanya terdapat pula dalam kumpulan cerita pendek terbaik Kompas: Pelajaran Mengarang (1993), Lampor (1994), Derabat (1999), Dua Tengkorak Kepala (2000).


Cecep Syamsul Hari dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, 1 Mei 1967. Sebagian tulisannya dipublikasikan di: Kompas, Horison, The Jakarta Post, Utan Kayu Tafsir dalam Permainan (1998), Derabat: Kumpulan Cerita Pendek Terbaik Kompas 1999. Beberapa karya terjemahan dan suntingannya: Para Pemabuk dan Putri Duyung (1996; Pablo Neruda), Hikayat Kamboja (1996; D.J. Enright), Ringkasan Sahih Bukhari (1997; kompilasi 2230 hadis Bukhari karya Al-Imam Zain al-Din Ahmad bin Abd al-Latif al-Zabidi), Kisah-kisah Parsi Jilid III & IV (2000; C.A. Mees Santport dan H.B. Jassin), Mamannoor: Umi Dachlan Imagi dan Abstraksi (2000). Puisi-puisinya dalam Kenang-kenangan (1996) diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris, dipublikasikan di Heat Literary International (1999; Australia) dan Secrets Need Words: Indonesian Poetry 1966-1998 (2001; Amerika Serikat).


Dee, yang bernama lengkap Dewi Lestari, dilahirkan di Bandung, 20 Januari 1976. S-1 Ilmu Politik dari Hubungan Internasional Universitas Parahyangan, Bandung. Ia lebih dulu dikenal sebagai pencipta lagu dan penyanyi dari trio vokal “Rida, Sita, Dewi”. Tercacat sebagai dewan redaksi CIMM (Circle of Information for Mass Media), dan kontributor majalah Trolley.  Supernova adalah novelnya pertama yang direncanakan sebagai suatu novel serial dengan spirit penelusuran terhadap spiritualitas dan sains.


Dorothea Rosa Herliany dilahirkan di Magelang, Jawa Tengah, 20 Oktober 1963. Sejak 1985 menulis di berbagai media massa, antara lain: Horison, Kompas, Jawa Pos, Basis, dan Dewan Sastra (Malaysia). Karya-karyanya: Nyanyian Gaduh (1987), Matahari yang Mengalir (1990), Kepompong Sunyi (1993), Nyanyian Rebana (1993), Nikah Ilalang (1995), Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999; terpilih sebagai pemenang kedua Sayembara Mengarang Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2000).


Eka Budianta dilahirkan di Ngimbang, Jawa Timur, 1 Februari 1956. Karya-karya penyair yang menulis sejak 1974 dan pernah menjadi wartawan Tempo, Yomiuri Shimbun, penyiar radio BBC London serta pengajar bahasa Indonesia pada International School of London ini antara lain: Cerita di Kebun Kopi (1981); Sejuta Milyar Satu (1984; mendapat penghargaan DKJ), Masih Bersama Langit (2000), dan kumpulan cerpen Api Rindu (1987).


Eliza Vitri Handayani mulai menulis sejak kelas 3 SD, dan meraih Juara I Lomba Menulis Naskah Film/Video yang diadakan Departemen Penerangan RI di tahun 1999, ketika ia masih duduk di kelas II SMU Taruna Nusantara, Magelang, Jawa Tengah, di usia 17 tahun. Ia menulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Kumpulan puisi dan noveletnya dalam bahasa Inggris: Moments (1997) dan Forever Friends (1999), keduanya masih dalam bentuk manuskrip. Pada September 2000 ia berangkat ke Amerika Serikat, melanjutkan studi film dan penulisan fiksi di Wesleyan University, Connecticut, Amerika Serikat. Naskah Film TV berbentuk novelet yang ia tulis, Area X, dimuat bersambung di majalah sastra Horison mulai Januari 2001.


Emha Ainun Nadjib dilahirkan di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953. Karya-karya alumnus International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat (1981) ini antara lain: Sajak-sajak Sepanjang Jalan (1978), Nyanyian Gelandangan (1982), Indonesia Bagian Sangat Penting dari Desa Saya (1980), 99 untuk Tuhanku (1980), Syair Lautan Jilbab (1989), Suluk Pesisiran (1988), Dari Pojok Sejarah: Renungan Perjalanan, Sastra yang Membebaskan (1985), Cahaya Maha Cahaya (1991), Slilit Sang Kiai (1991), Markesot Bertutur (1992), Seribu Masjid Satu Jumlahnya: Tahajud Cinta Seorang Hamba (1990), Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996), Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1994), Tuhan pun “Berpuasa” (1977).


F. Rahardi dilahirkan di Ambarawa, Jawa Tengah, 10 Juni 1950. Karya-karya penyair yang terakhir menjabat Pemimpin Umum/Wakil  Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab majalah pertanian Trubus ini antara lain: Soempah WTS (1983), Catatan Harian Sang Koruptor (1985), Silsilah Garong (1990), Kentrung Itelile (1993), Petani Berdasi (1994).


Fakhrunnas MA Jabbar dilahirkan di Tanjung Barulak, Riau, 18 Januari 1959. Karya-karyanya: Di Bawah Matahari (1981; bersama Husnu Abadi), Matahari Malam, Matahari Siang (1982; bersama Husnu Abadi), Dari Bumi Lada (1996), dan lain-lain.


Gus tf dilahirkan di Payakumbuh, Sumatera Barat, 13 Agustus 1965. Karya-karyanya: Segi Empat Patah Sisi (1990), Segitiga Lepas Kaki (1991), Istana Ketirisan (1996), Sangkar Daging (1997), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), Tambo Sebuah Pertemuan (2000). Selain itu tersebar pula di banyak media massa dan antologi.


Harris Effendi Thahar dilahirkan di Tembilanan, Riau, 4 Januari 1950. Karya-karya penulis cerpen yang pada 1985 berkesempatan mengajar di Universitas Tasmania, Hobart, Australia, terdapat dalam sejumlah kumpulan cerita pendek terbaik Kompas, seperti: Pelajaran Mengarang, Lampor, dan Laki-laki yang Kawin dengan Peri. Karya-karyanya yang telah diterbitkan: Lagu Sederhana Merdeka (1976), Kiat Menulis Cerita Pendek (1999), Bendera Kertas dan Daun Jati, Si Padang.


Helvy Tiana Rosa  dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 2 April 1970. S-1 Sastra  Arab dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Menulis puisi, drama, cerita pendek, dan novel. Sebagian telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Arab, Perancis, dan Jepang. Karya-karyanya antara lain: Aminah dan Palestina (1991), Negeri Para Pesulap (1993), Maut di Kamp (1997; bersama M. Syahidah), Luka Bumi (1998; bersama Rahmadianti), Ketika Mas Gagah Pergi (1997), Mc. Alliester (1996), Lentera (1999; ditulis bersama Nadia), Sebab Sastra yang Merenggutku dari Pasrah (1999), Nyanyian Perjalanan (2000; bersama Gola Gong). Kini ia menjabat pemimpin redaksi Annida dan memimpin Forum Lingkar Pena, sebuah wadah penggemar sastra dan perempuan pengarang pemula dengan 2000 anggota se-Indonesia.


Hudan Hidayat dilahirkan di Yogyakarta, 3 Januari 1961. Sejak 1990-an aktif mempublikasikan cerpen di berbagai media massa seperti Suara Pembaruan, Republika, Horison, Media Indonesia, dan lain-lain. Kumpulan cerpennya, Orang Sakit, terbit pada 2000 dengan kata pengantar H.B. Jassin. 


Isbedy Setiawan ZS dilahirkan di Tanjungkarang, Lampung, 5 Juni 1958. Karyanya tersebar di berbagai media dalam negeri. Karya-karyanya: Darah (1982), Badai (1984), Akhir (1984), Khalwat, Membaca Bahasa Sunyi, Lukisan Ombak, dan antologi-antologi puisi Cermin Langit, Puisi Indonesia 1987, Dari Negeri Poci 2 (1994; F. Rahardi  [ed.]), Resonansi Indonesia (2000), dan lain-lain.


Jamal D. Rahman dilahirkan di Sumenep, Madura, 14 Desember 1967. Menulis puisi dan esai. Tulisannya tersebar di berbagai media, antara lain: Republika, Ulumul Qur’an, Jawa Pos. Kumpulan puisi penyair yang juga redaktur pelaksana majalah sastra Horison ini adalah Air Mata Diam (1993). Puisi-puisinya dimuat pula dalam beberapa antologi, antara lain: Mimbar Penyair Abad 21.


Joko Pinurbo dilahirkan di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962. Manuskrip penyair yang hingga kini bekerja sebagai salah seorang redaktur penerbitan Kompas ini, Di Bawah Kibaran Sarung, terpilih sebagai pemenang ketiga Sayembara Mengarang Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2000. Selain di dalam Celana (1999), karya-karyanya ditemukan pula di berbagai media massa, antara lain: Horison, Basis, Kalam, Kompas, Republika.


Joni Ariadinata dilahirkan di Majalengka, Jawa Barat, 23 Juni 1966. Karya-karyanya tersebar di berbagai media massa, seperti Kompas, Republika, Horison, Matra. Cerita pendeknya, “Lampor”, terpilih sebagai cerita pendek terbaik Kompas 1994 dan diterbitkan dalam kumpulan cerpen terbaik Kompas berjudul sama di tahun yang sama. Karya-karyanya: Air Kaldera (1998), Kali Mati (1999), dan Kastil Angin Menderu (2000). Selain itu termuat pula dalam sejumlah antologi.


Kriapur dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 6 Agustus 1959, dan meninggal di Batang, provinsi yang sama, 17 Februari 1987. Menulis sejak 1974. Puisi-puisinya dikumpulkan dalam Tiang Hitam Belukar Malam (1996), dan sejumlah antologi.


Leila S. Chudori dilahirkan di Jakarta, 12 Desember 1962. Karyanya dimuat antara lain di: Horison, Matra, Media Indonesia. Kumpulan cerita pendeknya, Malam Terakhir, terbit pada 1989.


Linus Suryadi AG dilahirkan di Sleman, Yogyakarta, 3 Maret 1951, dan meninggal di kota kelahirannya, 30 Juli 1999. Mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat (1982) dan dua tahun kemudian mendapat Hadiah Seni dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Karya-karyanya antara lain: Langit Kelabu (1976), Pengakuan Pariyem (1981), Perkutut Manggung (1986), Tugu (1986), Kembang Tunjung (1989), Rumah Panggung (1989), Di Balik Sejumlah Nama (1989). Karya-karyanya diangkat pula dalam Laut  Biru Langit Biru (1977: Ajip Rosidi [ed.]), Walking Westward in the Morning: Seven Contemporary Indonesia Poets (1990; John H. MacGlynn [ed.]), This Same Sky: A Collection of Poems from Around the World (1992; Naomi Shihab Nye [ed.])

 

M. Shoim Anwar dilahirkan dilahirkan di Jombang, Jawa Timur, 16 Mei 1963. Karya-karyanya: Sang Pelancong (1991), Angin Kemarau (1922), Oknum (1992), Musyawarah Para Bajingan (1993), Pot dalam Otak Kepala Desa (1995). Cerpennya terdapat pula dalam banyak antologi, antara lain: New York After Midnight (1991).


Mathori A. Elwa dilahirkan di Magelang, Jawa Tengah, 6 September 1965. Sebelum Rajah Negeri Istighfar, kumpulan puisi penyair yang menjalani kehidupan asketik ini adalah Yang Maha Syahwat (1997). Selain itu karya-karyanya dimuat pula antara lain dalam antologi: Puisi Indonesia 1987, Tiga Penyair di TIM.


Medy Lukito dilahirkan di Surabaya, 21 Juli 1962. Puisi, cerpen serta artikel-artikelnya tersiar di berbagai surat kabar sejak 1978. Selain dalam antologi Festival Puisi XIV (1994); Trotoar (1996); dan Jakarta, Jangan Lagi (1997), puisi-puisinya dikumpulkan dalam In Solitude (1993) dan Jakarta, Senja Hari (1998).


Moh. Wan Anwar dilahirkan di Cianjur, Jawa Barat, 1971. Penyair yang juga redaktur majalah sastra Horison ini, tulisannya tersebar di berbagai media massa dalam negeri. Karya-karyanya terdapat dalam antologi puisi: Rumah Kita (1996), Malam 1000 Bulan (1997), Transendensi Waktu (1997), Antologi Puisi Indonesia 1997.


Nenden Lilis A. dilahirkan di Garut, Jawa Barat, 26 September 1971. Tulisannya antara lain dimuat di Kompas, Pikiran Rakyat, Republika, Media Indonesia. Kumpulan puisi tunggalnya, Negeri Sihir, diluncurkan pada 1999. Selain itu dimuat pula dalam sejumlah antologi, di antaranya: Mimbar Penyair Abad 21 (1996) dan Dua Tengkorak Kepala: Kumpulan Cerita Pendek Terbaik Kompas 2000.


Nirwan Dewanto, lahir di Surabaya, 28 September 1961. Lulus dari jurusan Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, ITB (1980). Tulisannya tersebar di Pikiran Rakyat, Kompas, Suara Karya Minggu, Berita Buana, Kalam, dan lain-lain. Satu kumpulan esainya yang sudah diterbitkan: Senjakala Kebudayaan (1996). Terakhir ia mengasuh jurnal kebudayaan Kalam.


Noorca M. Massardi dilahirkan di Subang, Jawa Barat, 28 Februari 1954. Karya-karyanya: Perjalanan Kehilangan (1974; pemenang hadiah Sayembara Penulisan Lakon DKJ), Kuda-kuda (1975), Tin Ton (1976), Growong (1987), dan novel Sekuntum Duri (1979) dan Mereka Berdua (1982).


Oka Rusmini dilahirkan di Jakarta, 11 Juli 1967. Kumpulan puisinya, Monolog Pohon, terbit pada 1997, dan novelnya, Tarian Bumi, diluncurkan tiga tahun kemudian. Selain itu karya-karyanya dimuat dalam sejumlah antologi, antara lain: Rindu Anak Mendulang Kasih (1987), Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia dan Dunia Ibu: Antologi Cerpen Wanita Cerpenis Indonesia (keduanya dieditori Korrie Layun Rampan), Negeri Bayang-bayang (1996) dan Mimbar Penyair Abad 21. Cerpennya, “Putu Menolong Tuhan”, memenangkan Sayembara Mengarang Cerita Pendek Majalah Femina 1994.


Ratna Idraswari Ibrahim dilahirkan di Malang, Jawa Timur, 24 April 1949. Cerpen-cerpennya dimuat antara lain di: Kompas, Jawa Pos, Basis, Horison, Republika. Kumpulan cerpennya yang sudah diterbitkan adalah Menjelang Pagi (1994). Selain itu, karya-karyanya dimuat pula dalam antologi cerpen terbaik Kompas: Pelajaran Mengarang (1993), Lampor (1994), dan Dua Tengkorak Kepala (2000), serta dalam Dunia Ibu: Antologi Cerita Pendek Wanita Cerpenis Indonesia dan Ungu: Antologi Puisi wanita Penyair Indonesia (Korrie Layun Rampan [ed.]).


Soni Farid Maulana dilahirkan di Tasikmalaya, Jawa Barat, 19 Februari 1962. Sajak-sajak penyair yang bekerja sebagai wartawan harian Pikiran Rakyat ini tersebar di berbagai media massa dalam negeri, dan sebagian telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan Jerman. Buku kumpulan puisinya yang telah diterbitkan: Bunga Kecubung (1984), Dunia Tanpa Peta (1985), Krematorium Matahari (1985), Para Penziarah (1987), Matahari Berkabut (1989), Kalakay Mega (1992), Guguran Debu (1994), Panorama Kegelapan (1996), Lagu dalam Hujan (1996), Sehabis Hujan (1996), Di Luar Mimpi (1997), Impian Depan Cermin (1999), Kita Lahir sebagai Dongengan (2000).


Suminto A. Sayuti dilahirkan di Purbalingga,   Jawa Tengah, 26 Oktober 1956. Selain tersebar di berbagai antologi, karya-karya penyair yang hingga kini setia mengulas karya puisi dan sastra di mingguan Minggu Pagi dan KR Minggu ini, antara lain: Puisi dan Pengajarannya (1958), Himpunan Analisis Sastra (1983), Himpunan Analisis Puisi (1988), Dasar-dasar Analisis Fiksi (1988), Malam Lereng (1986), Syair-syair Cinta (1989). Kini guru besar, mengajar di Universitas Negeri Yogyakarta.


Tan Lioe Ie dilahirkan di Denpasar. Tulisan-tulisannya antara lain dimuat di Bali Post dan Horison.  Kumpulan puisinya yang telah diterbitkan, Kita Bersaudara (1991), diterjemahkan Thomas Hunter ke dalam bahasa Inggris menjadi We Are All One. Selain itu, karya-karyanya dimuat pula dalam berbagai antologi, seperti Mimbar Penyair Abad 21 (1997).


Taufik Ikram Jamil dilahirkan dilahirkan di Bengkalis, Riau, 19 September 1963. Karya-karyanya: Tersebab Haku Melayu (1995), Sandiwara Hang Tuah (1996), Membaca Hang Jebat (1998), Hempasan Gelombang (1998; pemenang harapan kedua Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998). Sebuah cerpennya, “Menjadi Batu”, terpilih sebagai Juara I Sayembara Cerpen Horison 1997. Kini ia bekerja sebagai wartawan harian Kompas.


Wowok Hesti Prabowo dilahirkan di Grobogan, Jawa Tengah, 16 April 1963.  Karya-karya penyair ketua pertama (1996-99) Komunitas Sastra Indonesia ini: Rumah Petak (1996; bersama Dingu Rilesta), Buruh Gugat (1999), Presiden dari Negeri Pabrik (1999), dan Lahirnya Revolusi (2000).  Selain itu, puisi-puisinya tersebar di banyak antologi.


Yudhistira ANM Massardi  dilahirkan di Subang, Jawa Barat, 28 Februari 1954. Pada 1985 mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat. Karya-karyanya antara lain: Arjuna Mencari Cinta (1997; novel yang mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K), Wot atawa Jembatan (1997), Ke (1978), Mencoba Tidak Menyerah (1979; mendapat penghargaan Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1977), Sajak Sikat Gigi (1983; salah satu kumpulan puisi terbaik 1976-77 versi Dewan Kesenian Jakarta), Wanita dalam Imajinasi (1994), Forum Bengkarung (1994).


Yusrizal KW dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, 2 November 1969. Tulisan-tulisannya dipublikasikan antara lain di Kompas, Media Indonesia, Republika, Riau Pos. Kumpulan puisinya, Interior Kelahiran, terbit 1997. Selain itu karya-karyanya tersebar dalam berbagai antologi, antara lain: Mimbar Penyair Abad 21 dan Pistol Perdamaian: Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 1996.


Zeffry J. Alkatiri dilahirkan di Jakarta, 30 Agustus 1960. Dosen di jurusan Rusia FSUI yang menekuni bidang kebudayaan, kesusastraan dan mitologi ini telah melahirkan beberapa buku, antara lain: Manusia, Mitos, dan Mitologi (1998); Dari Pushkin sampai Perestroika (1999), manuskrip Simbol, Legitimasi dan Pembenaran. Manuskrip kumpulan puisinya, Dari Batavia Sampai Jakarta: 1619-1999 meraih juara pertama Sayembara Mengarang Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2000.


Blog EntryDec 31, '06 7:52 AM
for everyone

A.A. Navis dilahirkan Padangpanjang, Sumatera Barat, 17 November 1924. “Robohnya Surau Kami” dan sejumlah cerita pendek lain penerima Hadiah Seni dari Departemen P dan K pada 1988 ini, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jepang, Perancis, Jerman, dan Malaysia. Cerpen pemenang hadiah kedua majalah Kisah di tahun 1955 itu diterbitkan pula dalam kumpulan Robohnya Surau Kami (1956). Karyanya yang lain: Bianglala (1963), Hujan Panas (1964; Hujan Panas dan Kabut Musim, 1990), Kemarau (1967), Saraswati, si Gadis dalam Sunyi (1970; novel ini memperoleh penghargaan Sayembara Mengarang UNESCO/IKAPI 1968), Dermaga dengan Empat Sekoci (1975), Di Lintasan Mendung (1983), Alam Terkembang Jadi Guru (1984), Jodoh (1998).


Abdul Hadi WM dilahirkan di Sumenep, Madura, 24 Juni 1946. Antara 1967-83 pernah menjadi redaktur Gema Mahasiswa, Mahasiswa Indonesia, Budaya Jaya, Berita Buana, dan penerbit Balai Pustaka. Pada 1973-74 mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat. Karya-karyanya: Riwayat (1967) Laut Belum Pasang (1971), Cermin (1975), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Meditasi (1976; meraih hadiah Buku Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1976-77), Tergantung Pada Angin (1977), Anak Laut Anak Angin (1983; mengantarnya menerima penghargaan SEA Write Award 1985). Sejumlah sajaknya diterjemahkan Harry Aveling dan disertakan dalam antologi Arjuna in Meditation (1976). Karya-karya terjemahannya: Faus (Goethe), Rumi: Sufi dan Penyair (1985), Pesan dari Timur (1985; Mohammad Iqbal), Iqbal: Pemikir Sosial Islam dan Sajak-sajaknya (1986; bersama Djohan Effendi), Kumpulan Sajak Iqbal: Pesan kepada Bangsa-bangsa Timur (1985), Kehancuran dan Kebangunan: Kumpulan Puisi Jepang (1987). Kumpulan esainya, Kembali ke Akar Kembali ke Sumber diluncurkan pada 1999, dua puluh tahun setelah ia menerima Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.


Abdul Muis dilahirkan di Solok, Sumatera Barat, 1886, dan meninggal di Bandung, 17 Juli 1959. Menulis novel Salah Asuhan (1928), Pertemuan Jodoh (1933), Surapati (1950), Robert Anak Surapati (1953), dan menerjemahkan antara lain: Don Quixote de la Mancha (1928; Carventes), Tom Sawyer Anak Amerika (1928; Mark Twain); Sebatang Kara (1932; Hector Malot), Tanah Airku (1950; C. Swann Koopman).


Abrar Yusra dilahirkan di Agam, Sumatera Barat, 26 Maret 1943. Karya-karya mantan redaktur pelaksana harian Singgalang yang kini banyak menulis buku biografi ini, antara lain: Ke Rumah-rumah Kekasih (1975), Siul (1975), Aku Menyusuri Sungai Waktu (1976), Amir Hamzah 1911-1946 sebagai Manusia dan Penyair (1996).


Achdiat K. Mihardja dilahirkan di Garut, Jawa Barat, 6 Maret 1911. Sebelum menjadi dosen Universitas Nasional Australia dari 1961 hingga pensiun, ia pernah bekerja sebagai guru Taman Siswa, redaktur Balai Pustaka, Kepala Jawatan Kebudayaan Perwakilan Jakarta Raya, dan dosen Fakultas Sastra Indonesia. Karyanya antara lain: Polemik Kebudayaan (1948; [ed].), drama Bentrokan dalam Asmara (1952), Pak Dullah in Extremis (1977), dan novel Debu Cinta Bertebaran (1973) serta Atheis (1949). Yang terakhir ini adalah karyanya yang paling terkenal dan memperoleh Hadiah Tahunan Pemerintah RI pada 1969. Tiga tahun kemudian novel tersebut diterjemahkan R.J. Maguire ke dalam bahasa Inggris.


Ahmad Tohari dilahirkan di Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948. Pernah bekerja sebagai redaktur majalah Keluarga dan Amanah. Karya-karyanya: Kubah (1980; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama 1980), Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jantera Bianglala (1986; meraih hadiah Yayasan Buku Utama 1986), Di Kaki Bukit Cibalak (1986; pemenang salah satu hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1979), Senyum Karyamin (1989), Bekisar Merah (1993), Kiai Sadrun Gugat (1995), Lingkar Tanah Lingkar Air (1995), Nyanyian Malam (2000). Novelis yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing ini adalah salah seorang alumnus International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, dan pada 1985 dianugerahi SEA Write Award.


Ajip Rosidi dilahirkan di Jatiwangi, Jawa Barat, 31 Januari 1938. Karya-karya Profesor Gaidai University of Foreign Studies Jepang ini antara lain: Tahun-tahun Kematian (1955), Pesta (1956; bersama Sobron Aidit dan S.M. Ardan), Di Tengah Keluarga (1956), Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957; meraih Hadiah Sastra Nasional BMKN), Perjalanan Penganten (1958), Surat Cinta Enday Rasidin (1960), Jeram (1970), Jakarta dalam Puisi Indonesia (1972; [ed.]), Laut Biru Langit Biru (1977; [ed.]), Syafruddin Prawiranegara Lebih Takut kepada Allah Swt. (1986; [ed.]),  Nama dan Makna (1988), Terkenang Topeng Cirebon (1992), Sastra dan Budaya Kedaerahan dalam Keindonesiaan (1995). Bersama Matsuoka Kunio, ia juga menerjemahkan novel-novel Kawabata Yasunari Penari-penari Jepang (1985; Izu no odoriko) dan Daerah Salju (1987; Yukiguni).


Akhudiat dilahirkan di Banyuwangi, Jawa Timur, 5 Mei 1946. Peserta International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, pada 1975. Sejumlah naskah dramanya memenangkan Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Dewan Kesenian Jakarta. Karya-karyanya antara lain: Gerbong-gerbong Tua Pasar Senen (1971), Grafito (1972), Rumah Tak Beratap Rumah Tak Berasap dan Langit Dekat dan Langit Jauh (1974), Jaka Tarub (1974), Bui (1975), Re (1977), Suminten dan Kang Lajim (1982), dan Memo Putih (2000).


Ali Hasjmy  dilahirkan Seulimeum, Aceh, 28 Maret 1914, dan meninggal di Banda Aceh, 18 Januari 1998. Pernah menjabat Gubernur Aceh dan Rektor IAIN Jami`ah Ar-Raniry Darussalam, Banda Aceh. Tulisan-tulisannya berupa puisi dan novel. Karya-karyanya antara lain: Kisah Seorang Pengembara (1936), Sayap Terkulai (1936), Bermandi Cahaya Bulan (1938), Melalui Jalan Raya Dunia (1939), Suara Azan dan Lonceng Gereja (1948), Dewan Sajak (1940), Dewi Fajar (1940), Jalan Kembali (1964), Tanah Merah (1980).


Amir Hamzah dilahirkan di Tanjungpura, Sumatera Utara, 28 Februari 1911 dan meninggal di Kuala Begumit, di provinsi yang sama, 20 Maret 1946, sebagai korban dari suatu “revolusi sosial”. Ia merupakan pendiri majalah Pujangga Baru (1933) bersama-sama Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane. Dua kumpulan puisinya, Nyanyi Sunyi (1937) dan Buah Rindu (1941) tak henti-henti menjadi bahan pembicaraan dan kajian para kritikus sastra di dalam dan luar negeri serta diajarkan di sekolah-sekolah hingga saat ini. Selain itu ia pun melahirkan karya-karya terjemahan: Setanggi Timur (1939), Bagawat Gita (1933), Syirul Asyar (tt.).


Arifin C. Noer dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 10 Maret 1941, dan meninggal di Jakarta, 28 Mei 1995. Pendiri Teater Kecil ini menulis puisi, drama, dan menyutradarai sejumlah film. Karya-karyanya anatara lain: Nurul Aini (1963), Mega-mega (1967), Kapai-kapai (1967; diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris), Prita Istri Kita, Umang-umang, Selamat Pagi Jajang (1979).


Armijn Pane dilahirkan di Muara Sipongi, Sumatera Utara, 18 Agustus 1908, dan meninggal di Jakarta, 16 Februari 1970. Antara 1933-55 pernah menjadi redaktur majalah Pujangga Baru, Balai Pustaka, dan majalah Indonesia. Novelnya, Belenggu (1940), hingga saat ini dipandang sebagai peretas penulisan novel Indonesia modern. Karya-karyanya yang lain: Jiwa Berjiwa (1939), Kort overzicht van de Moderne Indonesische Literatuur (1949), Kisah Antara Manusia (1953), Jinak-jinak Merpati (1953), Gamelan Jiwa (1960), Tiongkok Zaman Baru, Sejarahnya: Abad ke-19 Sekarang (1953). Ia pun menerjemahkan dan menyadur novel dan drama, yaitu: Membangun Hari Kedua (1956; Ilya Ehtenburg) dan Ratna (1943; Hendrik Ibsen).


Asrul Sani dilahirkan di Rao, Sumatera Barat, 10 Juni 1926. Lulusan  Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia (1955) ini pernah menjadi redaktur Pujangga Baru, Gema Suasana, Gelanggang, dan Citra Film. Karya-karya aslinya adalah: Tiga Menguak Takdir (1950; bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin), Dari Suatu Masa Dari Suatu Tempat (1972), Mantera (1975), Mahkamah (1988). Selain banyak menulis skenario dan menyutradarai film, ia dikenal sebagai penerjemah andal dan produktif. Karya-karya terjemahannya, antara lain: Laut Membisu (1949; Vercors), Pangeran Muda (1952; Antoine de Saint Exupery), Enam Pelajaran bagi Calon Aktor (1960; Richard Bolslavsky), Rumah Perawan (1977; Kawabata Yasunari), Villa des Roses (Willem Elschot), Puteri Pulau (1977; Maria Dermout), Kuil Kencana (1978; Yukio Mishima), Pintu Tertutup  (1979; Jean Paul Sartre), Julius Caesar (1979; William Shakespeare), Sang Anak (1979; Rabindranath Tagore); Catatan dari Bawah Tanah (1979; Dostoyevsky), Keindahan dan Kepiluan (1986; Nikolai Gogol).


BM Syamsuddin dilahirkan di Natuna, Kepulauan Riau, 10 Mei 1935, dan meningal di Bukitttingi, 20 Februari 1997. Karya-karyanya berupa puisi dan cerpen dimuat di antaranya di Kompas dan Suara Karya Minggu. Selain sejumlah buku cerita anak, ia menulis antara lain: Seni Lakon Mendu Tradisi Pemanggungan dan Nilai Lestari (1995) dan Seni Teater Tradisional Mak Yong.


Budi Darma dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Meraih M.A. dan Ph.D di Indiana University, Bloomington, Amerika Serikat. Novelis yang pernah menjadi Rektor IKIP Surabaya ini meraih SEA Write Award pada 1984. Karya-karyanya: Orang-orang Bloomington (1980), Solilokui (1983), Olenka (1983; pemenang pertama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980 dan Hadiah Sastra DKJ 1983), Sejumlah Esai Sastra (1984), Rafilus (1988), Harmonium (1995), Ny Talis (1996). Sebuah cerpennya, “Derabat”, terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1999 dan dipublikasikan pada buku berjudul sama. 


Bur Rasuanto dilahirkan di Palembang, Sumatera Selatan, 6 April 1937. Karya-karya salah seorang penanda tangan utama Manifes Kebudayaan dan doktor dalam bidang filsafat ini adalah: Bumi yang Berpeluh (1963), Mereka Akan Bangkit (1963; meraih Hadiah Sastra Yamin, namun ditolak pengarangnya), Mereka Telah Bangkit (1966), Sang Ayah (1969), Manusia Tanah Air (1969), Tuyet (1978; mendapat hadiah utama Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1978).


BY Tand dilahirkan di Asahan, Sumatera Utara, 10 Agustus 1942. Karya-karyanya: Ketika Matahari Tertidur (1979), Sajak-sajak Diam (1983), Sketsa (1984; memenangkan Hadiah Utama Hadiah Puisi Putra II Malaysia), Alif Ba Ta (t.t.), Khatulistiwa (1981), Titian Laut I, II, III (1982; terbit di Malaysia), Si Hitam (1990), dan antologi Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (Suratman Markasan [ed.]).


Chairil Anwar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922, dan meninggal di Jakarta, 28 April 1949. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, sastrawan yang oleh H.B. Jassin dinobatkan sebagai Pelopor angkatan 45 dalam puisi itu,  mendirikan “Gelanggang Seniman Merdeka” (1946). Kumpulan puisi penyair yang pernah menjadi redaktur ruang budaya  Siasat “Gelanggang” dan Gema Suasana ini  adalah Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949), Deru Campur Debu (1949), Tiga Menguak Takdir (1950; bersama Asrul Sani dan Rivai Apin), Aku Ini Binatang Jalang (1986), Derai-derai Cemara (1998). Karya-karya terjemahannya: Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948; Andre Gide), Kena Gempur (1951; John Steinbeck). Penerjemahan karya-karyanya ke dalam bahasa Inggris dan Jerman dilakukan Burton Raffel,  Chairil Anwar: Selected Poems (New York: 1963) dan The Complete Poetry  and Prose of Chairil Anwar (New York: 1970), Liaw Yock-Fang (Singapura: 1974), Walter Karwath, Feur und Asche (Wina: 1978). Karya-karya studi tentang Chairil Anwar  antara lain dilakukan oleh: S.U.S. Nababan, A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil  Anwar (New York: 1976), Boen S. Oemarjati, Chairil Anwar: the Poet and His Language (Den Haag: 1972).


Chairul Harun dilahirkan Kayutanam, Sumatera Barat, Agustus 1940, dan meninggal di Padang, 19 Februari 1998. Karya-karyanya antara lain: Monumen Safari (1966) dan Warisan (1979; novel penerima hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1979)


D. Zawawi Imron dilahirkan di Sumenep, Madura, 1946. Karya-karya penyair yang meraih Hadiah Utama dalam lomba penulisan puisi AN-Teve pada 1995 ini, antara lain: Semerbak Mayang (1977), Madura Akulah Lautmu (1978), Celurit Emas (1980), Bulan Tertusuk Ilalang (1982), Nenek Moyangku Airmata (1985; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K, 1985), Bantalku Ombak Selimutku Angin (1996), Lautmu Tak Habis Gelombang (1996), Madura Akulah Darahmu (1999).


Damiri Mahmud dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 1945. Karya-karyanya: Tiga Muda (1980), Aku Senantiasa Mencari (1982), Sajak-sajak Kamar (1983), Kuala (1975), Puisi (1977), Rantau (1984). Puisi-puisinya dimuat pula di Horison, Basis, Republika, dan lain-lain.


Danarto dilahirkan di Sragen, Jawa Tengah, 27 Juni 1940. Karya-karya penerima SEA Write Award 1988 ini adalah: Godlob (1975), Adam Ma`rifat (1982; meraih Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta dan Yayasan Buku Utama pada tahun yang sama),  Berhala (1987; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1987), Orang Jawa Naik Haji (1984), Obrok Owok-owok, Ebrek Ewek-ewek (1976), Bel Geduwel Beh (1976), Gergasi (1993), Gerak-gerak Allah (1996), dan Asmaraloka (1999).


Darman Moenir  dilahirkan di Batusangkar, Sumatera Barat, 27 Juli 1952. Ia mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, pada 1988, dan empat tahun kemudian menerima Hadiah Sastra dari Pemerintah RI. Karya-karyanya antara lain: Gumam (1976),  Bako (1983; novel pemenang hadiah utama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1980), Aku Keluargaku Tetanggaku (pemenenang kedua Sayembara  Novel Kartini 1987), Jelaga Pusaka Tinggi (1997). Karyanya yang lain dapat ditemukan pula dalam antologi Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991; Suratman Markasan [ed.]).


Darmanto Jatman dilahirkan dilahirkan di Jakarta, 16 Agustus 1942. Karya-karyanya antara lain: Sajak-sajak Putih (1968), Ungu (1968; bersama A. Makmur Makka), Bangsat (1974), Sang Darmanto (1975), Ki Blakasuta Bla Bla (1980), Karto Iya Bilang Mboten (1981), Sastra, Psikologi, dan Masyarakat (1985), Sekitar Masalah Kebudayaan (1986), Golf untuk Rakyat (1994), Istri  (1997). Sejumlah sajaknya, bersama sejumlah sajak penyair lain seperti Abdul Hadi WM dan Sutardji Calzoum Bachri, diterjemahkan Harry Aveling dan dipublikasikan dalam Arjuna in Meditation (1976).


Djamil Suherman dilahirkan di Surabaya, Jawa Timur, 24 April 1924, dan meninggal di Bandung, 30 November 1985. Karya-karyanya berupa puisi, novel dan cerita pendek: Muara (1958; bersama Kaswanda Saleh), Manifestasi (1963), Perjalanan ke Akhirat (1963; memenangkan hadiah kedua Majalah Sastra 1962), Umi Kulsum (1983), Pejuang-pejuang Kali Pepe (1984), Sarip Tambakoso (1985), Sakerah (1985).


Ediruslan Pe Amanriza dilahirkan di Pekanbaru, Riau, 17 Agustus 1947. Kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Bandung tidak ia selesaikan. Kumpulan puisinya: Surat-suratku kepada GN, Vogabon, Bukit Kawin, Wangkang. Sementara novel-novelnya: Di Bawah Matahari, Taman, Jakarta di Manakah Sri, Nakhoda (mendapat Hadiah Sayembara mengarang Roman DKJ 1977), Panggil Aku Sakai (1987) Ke Langit (1993), Koyan, Jembatan, Dikalahkan Sang Sapurba (2000). Kumpulan cerita pendeknya: Renungkanlah Markasan (1997).


Frans Nadjira dilahirkan di Makassar, 3 September 1942. Sastrawan yang juga pelukis ini pada 1979 mengikuti Iowa International Writing Program, di Iowa City, Amerika Serikat. Puisi dan cerpennya tersebar di berbagai media publikasi, antara lain di Horison, Sinar Harapan, Bali Post, AIA News (Australia), termasuk di beberapa antologi bersama Laut Biru Langit Biru, Puisi Asean, Tonggak, The Spirit That Moves Us (USA), On Foreign Shores, Teh Ginseng, A Bonsai’s Morning, dan Ketika Kata Ketika Warna. Kumpulan puisinya: Jendela dan Springs of Fire Springs of Tears, dan kumpulan cerpennya Bercakap-cakap di Bawah Guguran Daun.


Gerson Poyk dilahirkan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931. Peserta angkatan pertama dari Indonesia pada International Writing Program di Iowa University Amerika Serikat ini, memenangkan Hadiah Adinegoro pada 1985 dan 1986, dan SEA Write Award pada 1989. Novel dan kumpulan cerita pendeknya, antara lain: Hari-hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Matias Ankari (1975), Oleng-kemoleng & Surat-surat Cinta Rajaguguk (1975), Nostalgia Nusatenggara (1976), Jerat (1978), Cumbuan Sabana (1979), Seutas Benang Cinta (1982), Giring-giring (1982), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requiem untuk Seorang Perempuan (1983), Anak Karang (1985), Doa Perkabungan (1987), Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988), Poti Wolo (1988).


Goenawan Mohamad dilahirkan di Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941. Pemimpin redaksi majalah Tempo selama 23 tahun yang juga mantan wartawan harian Kami ini dikenal luas sebagai penyair dan penulis esai yang sangat cerdas. Karya-karyanya antara lain: Pariksit (1971), Potret Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang (1972), Interlude (1973), Seks, Sastra, Kita (1980), Catatan Pinggir (1982-91; empat jilid), Asmaradana (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998). Salah seorang penanda tangan Manifes Kebudayaan ini, pada 1973 mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah RI, dan delapan tahun kemudian meraih SEA Write Award.


Hamid Jabbar dilahirkan di Kotagadang, Sumatera Barat, 27 Juli 1949. Karya-karya penyair yang pernah menjadi wartawan Indonesia Express, Singgalang, dan redaktur Balai Pustaka ini antara lain: Paco-Paco (1974), Dua Warna (1975; bersama Upita Agustine), Wajah Kita (1981), Siapa Mau Jadi Raja,  Raja Berak Menangis, Zikrullah. Cerpennya, “Engku Datuk Yth. Di Jakarta” terpilih masuk ke dalam antologi Cerita Pendek Indonesia IV (1986; Satyagraha Hoerip [ed.]). Kumpulan puisinya terakhir: Super Hilang, Segerobak Sajak (1998; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama).


HAMKA dilahirkan di Maninjau, Sumatera Barat, 16 Februari 1908, dan meningal di Jakarta, 24 Juli 1981. Pernah memimpin majalah Pedoman Masyarakat, Gema Islam, Panji Masyarakat, dan hingga akhir hayatnya menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia. Karya-karya peraih gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar (Mesir) ini antara lain: Di Bawah Lindungan Ka`bah (1938), Merantau ke Deli (1938), Karena Fitnah (1938), Tuan Direktur (1939), Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1939), Keadilan Ilahi (1941), Di Dalam Lembah Kehidupan (1941), Dijemput Mamaknya (1949), Menunggu Beduk Berbunyi (1950), Kenang-kenangan Hidup I-IV (1951-52), Lembah Nikmat (1959), Cemburu (1961), Cermin Penghidupan (1962), Ayahku (1967), dan sejumlah buku filsafat, etika, dan khotbah.  


Hamsad Rangkuti dilahirkan di Titikuning, Sumatera Utara, 7 Mei 1943. Sastrawan yang hampir setiap tahun karyanya selalu masuk dalam kumpulan cerita pendek terbaik Kompas ini, hingga sekarang menjabat pemimpin redaksi majalah sastra Horison. Karya-karyanya: Lukisan Perkawinan (1982), Cemara (1982), Lampu Merah (1988; novel yang memenangkan hadiah harapan Sayembara Mengarang Roman DKJ 1980), Kereta Pagi Jam 5 (1994), dan Sampah Bulan Desember (2000).


Hartoyo Andangjaya dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 4 Juli 1930, dan meninggal di kota kelahirannya, 30 Agustus 1991. Karya-karya aslinya: Simphoni Puisi (1954; bersama D.S. Moeljanto), Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, et. al.), Buku Puisi (1973), Dari Sunyi ke Bunyi (1991; kumpulan esai peraih hadiah Yayasan Buku Utama Depdikbud 1993). Karya-karya terjemahannya: Tukang Kebun (1976; Rabindranath Tagore), Kubur Terhormat bagi Pelaut (1977; Slauerhoff), Rahasia Hati (1978; Natsume Soseki), Musyawarah Burung (1983; Farid al-Din Attar), Puisi Arab Modern (1984), Kasidah Cinta (tt.; Jalal al-Din Rumi).


HS Djurtatap dilahirkan di Payakumbuh, Sumatera Barat, 2 Juni 1947.  Sejak 1974 menjadi redaktur harian Pelita Jakarta. Karya-karyanya dimuat antara lain di Horison. Dua sajaknya dimuat dalam antologi Sajak-sajak Perjuangan dan Tanah Air (1995; Oyon Sofyan [ed.]).


Husni Djamaluddin dilahirkan di Mandar, Sulawesi Selatan, 10 November 1934. Karya-karyanya: Puisi Akhir Tahun (1969), Obsesi (1970), Kau dan Aku (1973), Anu (1974), Toraja (1979), Sajak-sajak dari Makassar (1974), Bulan Luka Parah (1986), Berenang-renang ke Tepian, dan antologi Puisi ASEAN Buku III (1978).


Ibrahim Sattah dilahirkan di Pulau Tujuh, Riau Kepulauan, 1943, dan meninggal di Pekanbaru, 19 Januari 1988. Karya-karya penyair berpendidikan terakhir kelas 1 SMA dan pernah menjadi dosen Universitas Islam Riau serta Wakil Kepala Pusat Penerangan Angkatan Bersenjata RI Riau/Sumatera Barat itu terkumpul dalam: Dandandid (1975), Ibrahim (1980), dan Hai Ti (1981).


Idrus dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, 21 September 1921, dan meninggal di kota yang sama, 18 Mei 1979. Tahun 1965–79, mengajar di Universitas Monash, Australia. Penutur fasih yang pernah menjadi redaktur majalah Kisah dan Indonesia ini dikenal sebagai pelopor penulisan prosa dalam kesusastraan Indonesia modern. Karya-karya drama, cerita pendek, novel dan terjemahannya adalah: Dokter Bisma (1945); Kejahatan Membalas Dendam (1945), Jibaku Aceh (1945), Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (1948), Keluarga Surono (1948), Aki (1949), Perempuan dan Kebangsaan (1949), Dua Episode Masa Kecil (1952), Dengan Mata Terbuka (1961), Hati Nurani Manusia (1963), Hikayat Puteri Penelope (1973), Kereta Api Baja (1948; Vsevold Ivanov), Acoka (1948; G. Gonggrijp), Keju (1948; Willem Elschot), Perkenalan (1949; Anton Chekov, Luigi Pirandello, Guy de Maupassant, dan Jeroslav Hasek).


Idrus Tintin dilahirkan di Rengat, Riau, 10 November 1932. Ia pernah menjadi guru di SMAN II Pekanbaru dan mengasuh Sanggar Teater Bahana. Tiga kumpulan puisinya: Luput, Burung Waktu, dan Nyanyian di Lautan, Tarian di Tengah Hutan dikumpulkan kembali dalam Idrus Tintin: Seniman dari Riau Kumpulan Puisi dan Telaah (1996).


Ike Soepomo dilahirkan di Serang, Banten, 28 Agustus 1946. Menulis sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama. Hampir seluruh novelnya telah difilmkan. Selain novel, ia menulis cerita pendek, novelet, artikel, skenario film. Karya-karyanya antara lain: Untaian yang Terberai, Anyelir Merah Jambu, Putihnya Harapan, Permata, Lembah Hijau, Malam Hening Kasih Bening, Mawar Jingga, Kembang Padang Kelabu, Kabut Sutra Ungu.  Film yang didasarkan pada karyanya yang paling populer, Kabut Sutra Ungu, meraih beberapa piala “Citra” serta penghargaan Festival Film Asia di Bali. Sedangkan beberapa skenario film yang ditulisnya adalah: Hati Selembut Salju, Mawar Jingga, Hilangnya Sebuah Mahkota. 


Iwan Simatupang dilahirkan di Sibolga, Sumatera Utara, 18 Januari 1928, dan meninggal di Jakarta, 4 Agustus 1970. Sastrawan yang pernah memperdalam antropologi dan filsafat di Belanda dan Perancis serta sempat meredakturi Siasat dan Warta Harian. Ia dikenal dengan novel-novelnya yang mengusung semangat eksistensialisme: Merahnya Merah (1968), Kooong (1975; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P dan K, 1975), Ziarah (1969), Kering (1972). Dua novel yang disebut terakhir diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris. Cerpen-cerpennya dikumpulkan dalam Tegak Lurus dengan Langit (1982), sedangkan puisi-puisinya dalam Ziarah Malam (1993).


J.E. Tatengkeng dilahirkan di Sangir-Talaud, Sulawesi Utara, 19 Oktober 1907, dan meninggal di Ujungpandang, 6 Maret 1968. Karya masyhur salah seorang pendiri Universitas Hasanuddin dan pernah menjabat Perdana Menteri NTT di tahun 1949 ini adalah Rindu Dendam (1934).


Kirdjomuljo dilahirkan di Yogyakarta, 1930, dan meninggal di kota kelahirannya, 19 Januari 2000. Karya-karyanya yang sudah diterbitkan: Romance Perjalanan I (1955), Nona Maryam (1955), Penggali Kapur (1956), Penggali Intan (1957), Dari Lembah Pualam (1967), Di Saat Rambutnya Terurai (1968), Cahaya di Mata Emi (1968), Romansa Perjalanan (1976). Karya-karyanya dapat ditemukan pula dalam Tugu (1986) dan Tonggak 2 (1987),  keduanya dieditori Linus Suryadi AG.


Korrie Layun Rampan dilahirkan di Samarinda, Kalimantan Timur, 17 Agustus 1953. Pernah bekerja sebagai direktur keuangan merangkap redaktur pelaksana majalah Sarinah. Karya-karyanya tersebar di berbagai antologi, majalah dan surat kabar. Selain menerjemahkan karya-karya sastrawan dunia, ia juga telah menulis sekitar 100 judul buku cerita anak-anak. Karya-karya pentingnya antara lain: Matahari Pingsan di Ubun-ubun (1976), Upacara (1978; novel pemenang Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1976), Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985; meraih hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1985), Pembicaraan Puisi Indonesia (6 jilid), Api Awan Asap (1999), Perawan (2000), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2000), Leksikon Susastra Indonesia (2000).


Kuntowijoyo dilahirkan di Bantul, Yogyakarta, 18 September 1943. Di tahun 1974 meraih MA  dari Universitas Connecticut, dan enam tahun kemudian Ph.D. dari  Universitas Columbia, keduanya di Amerika Serikat. Dikenal sebagai sejarawan, novelis, penulis cerpen, esais, dan penyair. Karya-karyanya  antara lain: Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari (1966), Rumput-rumput Danau Bento (1969), Tidak Ada Waktu bagi Nyonya Fatma (1972), Barda dan Cartas (1972), Topeng Kayu (1973; mendapat hadiah kedua Sayembara Penulisan Lakon DKJ 1973), Isyarat (1976), Suluk Awang Uwung (1976), Khotbah di Atas Bukit (1976), Dinamika Umat Islam Indonesia (1985), Budaya dan Masyarakat (1987), Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi (1991), Radikalisasi Petani (1993), Dilarang Mencintai Bunga-bunga (1993), Pasar (1995). Kedua cerpennya dijadikan dua judul buku antologi cerpen penting: Laki-laki yang Kawin dengan Peri dan Sampan Asmara (masing-masing cerpen terbaik harian Kompas 1994 dan 1995).


Leon Agusta dilahirkan di Sangiran, Maninjau, Sumatera Barat, 5 Agustus 1938. Karya-karyanya: Monumen Safari (1966), Catatan Putih (1976), Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978), Hukla (1979), Berkemah dengan Putri Bangau (1981), Hedona dan Masochi (1984).


LK Ara lahir di Takengon, Aceh, 1937. Karya-karyanya: Angin Laut Tawar (1969), Saefuddin Kadir Tokoh Drama Gayo (1971), Serangkum Saer Gayo (1980), Namaku Bunga (1980), Anggrek Berbunga (1982), dan lain-lain. Bersama Taufiq Ismail menyunting Antologi Sastra Aceh, Seulawah (1995).


M. Fudoli Zaini dilahirkan di Sumenep, Madura, 8 Juni 1942. Meraih M.A. dan Ph. D. di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Karya-karyanya: Lagu dari Jalanan (1982), Potret Manusia (1983), Kota Kelahiran (1985; memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K, 1985), Arafah (1985), Batu-batu Setan (1994). Cerita pendeknya terdapat pula dalam Antologi Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968; H.B. Jassin [ed.]), Laut Biru Langit Biru (1977; Ajip Rosidi [ed.]).


M. Saribi Afn dilahirkan di Klaten, Jawa Tengah, 15 Desember 1936. Ia pernah menjadi redaktur majalah Konfrontasi, Gema Islam, Panji Masyarakat, harian Abadi. Sajaknya, “Hari Ini adalah Hari yang Penuh dengan Rahmat  dan Ampunan”, meraih hadiah majalah Sastra (1962).  Karya-karyanya terkumpul dalam Gema Lembah Cahaya (1962), Manifestasi (1963; [ed.]), dan diangkat pula ke dalam Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968; H.B. Jassin [ed.]) dan Tonggak 2 (1987; Linus Suryadi AG [ed.]).


Mansur Samin dilahirkan di Batangtoru, Sumatera Utara, 29 April 1930. Ia banyak menulis drama dan cerita anak-anak. Karya-karyanya: Perlawanan (1966), Kebinasaan Negeri Senja (1968), Tanah Air (1969), Dendang Kabut Senja (1988), Sajak-sajak Putih (1996), Sontanglelo (1996), Srabara (1996). Ia juga banyak menulis cerita anak-anak, yaitu: Hadiah Alam, Hidup adalah Kerja, Kesukaran Terkalahkan, Percik Air Batang Toru, Warna dan Kasih, dan Urip yang Tabah.


Marah Rusli dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, 7 Agustus 1889, dan meningal di Bandung, 17 Januari 1968. Novelnya yang masyhur, Sitti Nurbaya hingga 1996 telah 22 kali dicetak ulang. Karya-karyanya yang lain: La Hami (1952), Anak dan Kemenakan (1956), otobiografi Memang Jodoh, dan novel terjemahan Gadis yang Malang (1922; Charles Dickens).


Mochtar Lubis dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922.  Mantan wartawan LKBN Antara ini memimpin harian Indonesia Raya sejak 1951 hingga koran tersebut dilarang terbit pada 1974. Karena tulisan-tulisannya di surat kabar itu pula, selama sepuluh tahun (1956-66) ia ditahan Pemerintah Orde Lama. Sejak 1966, ia memimpin majalah sastra Horison. Ketua Yayasan Indonesia ini adalah penerima Penghargaan Magsaysay dari Pemerintah Filipina (1958), Pena Emas dari World Federation of Editor and Publisher (1967), dan Hadiah Sastra Chairil Anwar (1992) dari Dewan Kesenian Jakarta. Kumpulan cerita pendek dan novel-novelnya adalah: Si Jamal dan Cerita-cerita Lain (1951), Perempuan (1956; mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-56), Kuli Kontrak (1982), Bromocorah (1983), Tak Ada Esok (1951), Jalan Tak Ada Ujung (1952; memperoleh Hadiah Sastra Nasional BMKN 1952), Tanah Gersang (1966), Senja di Jakarta (1970), Harimau! Harimau! (1975; mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1975), Maut dan Cinta (1977). Karya-karya terjemahannya: Tiga Cerita dari Negeri Dolar (1950; John Steinbeck, Upton Sinclair, John Russel), Orang Kaya (1950; F. Scott Fitzgerald), Yakin (1950; Irwin Shaw), Kisah-kisah dari Eropah (1952), dan Cerita dari Tiongkok (1953).


Mohammad Diponegoro dilahirkan di Yogyakarta, 28 Juni 1928, dan meninggal di kota yang sama, 9 Mei 1982. Karya-karya pendiri dan pemimpin Teater Muslim yang pernah menjadi Wakil Pimpinan Umum/Wakil Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah (1975-82) ini antara lain: Surat pada Gubernur, Kabar Wigati dan Kerajaan (1977), Duta Islam untuk Dunia Modern (1983; bersama Ahmad Syafii Maarif), Iblis (1983), Percik-percik Pemikiran Iqbal (1983), Siasat (1984), Yuk, Nulis Cerpen, Yuk (1985), Odah dan Cerita Lainnya, dan antologi puisi Manifestasi (1963).


Motinggo Busye dilahirkan di Kupangkota, Lampung, 21 November 1937, dan meninggal di Jakarta, 18 Juni 1999. Menulis banyak novel, menyutradarai film, dan melukis. Karya-karyanya antara lain: drama Malam Jahanam (1958; memenangkan hadiah pertama Sayembara Penulisan Drama Departemen P & K 1958), novel Malam Jahanam (1962), Badai Sampai Sore (1962), Tidak Menyerah (1962), Keberanian Manusia (1962), 1949 (1963), Bibi Marsiti (1963), Hari Ini Tidak Ada Cinta (1963), Perempuan Itu Bernama Barabah (1963), Dosa Kita Semua (1963), Tiada Belas Kasihan (1963), Nyonya dan Nyonya (1963), Sejuta Matahari (1963), Matahari dalam Kelam (1963), Nasehat untuk Anakku (1963), Malam Pengantin di Bukit Kera (1963), Cross Mama (1966), Tante Maryati (1967), Sri Ayati (1968), Retno Lestari (1968), Dia Musuh Keluarga (1968), Madu Prahara (1985). Cerita pendeknya, “Dua Tengkorak Kepala”, terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas dan dipublikasikan dalam kumpulan cerita pendek berjudul sama (2000).


Muhammad Ali dilahirkan di Surabaya, Jawa Timur, 23 April 1927, dan meninggal di kota itu juga, 2 Juni 1998. Menulis sejak 1942. Tulisan-tulisannya terdiri dari novel, cerita pendek, puisi, drama. Karya-karyanya yang telah diterbitkan antara lain: 5 Tragedi (1952), Kubur Tak Bertanda (1953), Siksa dan Bayangan (1954), Di Bawah Naungan Al-Qur`an (1957), Hitam Atas Putih (1959), Si Gila (1969), Kembali kepada Fitrah (1969), Qiamat (1971), Bintang Dini (1975), Buku Harian Seorang Penganggur (1976), Nyanyian Burdah (1980), Teknik Penghayatan Puisi (1983). 


Muhammad Yamin dilahirkan di Sawahlunto, Sumatera Barat, 23 Agustus 1903, dan meninggal di Jakarta, 17 Oktober 1962. Menulis (dan menerjemahkan) karya sastra dan sejarah dalam berbagai bentuk: puisi, drama, biografi. Antara lain: Tanah Air (1922), Indonesia Tumpah Darahku (1928), Kalau Dewi Tara  Sudah Berkata (1932), Ken Arok dan Ken Dedes (1934), Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara (1945), Menantikan Surat dari Raja (1928; Rabindranath Tagore), Di Dalam dan di Luar Lingkungan Rumah Tangga (1933), Pangeran Dipanegara (1950), Lukisan Revolusi (1950), Julius Caesar (1951; William Shakespeare). Puisi-puisi penyair yang memperkenalkan soneta ke dalam khasanah puisi Indonesia ini dapat ditemukan pula dalam Antologi Pujangga Baru: Prosa dan Puisi (1963; H.B. Jassin [ed.]), Tonggak (1987; Linus Suryadi AG [ed.]).


Mustofa Bisri dilahirkan di Rembang, 10 Agustus 1944. Sering menggunakan nama samaran M. Ustov Abi Sri. Lulusan Universitas Al-Azhar (Kairo, Mesir) ini kerap mengikuti forum baca puisi, termasuk di Festival Mirbid X di Irak. Karya-karyanya dimuat dalam sejumlah antologi puisi bersama, antara lain: Puisi Syukuran Tutup Tahun 1989; Bosnia Kita; Parade Puisi Indonesia; Antologi Puisi Jawa Tengah. Kumpulan puisi tunggalnya adalah: Ohoi; Tadarus; dan Pahlawan dan Tikus.


N. Riantiarno dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 6 Juni 1949. Peserta International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, pada 1978 yang dikenal pula sebagai pendiri dan pemimpin Teater Koma ini, membidani kelahiran majalah Zaman dan terakhir memimpin majalah Matra. Karya-karyanya antara lain Opera Kecoa, Ranjang Bayi dan Percintaan Senja (kedua novel yang disebut terakhir masing-masing memenangkan sayembara majalah Femina dan Kartini), Semar Gugat (1995), Cinta Yang Serakah (1978).


Nasjah Djamin dilahirkan di Perbaungan, Sumatera Utara, 24 Desember 1924, dan meninggal di Yogyakarta, 4 September 1997.  Penerima Anugerah Seni Pemerinta RI di tahun 1970 yang sebelum menjadi redaktur Budaya dan bekerja di Bagian Kesenian Departemen P & K di Yogyakarta, hingga pensiunnya,  pernah ikut mendirikan Angkatan Seni Rupa di Medan (1945) dan Gabungan Pelukis Indonesia di Jakarta (1948). Karya-karyanya antara lain: Titik-titik Hitam (1956), Sekelumit Nyanyian Sunda (1958; memenangan Hadiah Sastra nasional BMKN 1957-58), Hilanglah si Anak Hilang (1963), Helai-helai Sakura Gugur (1964), Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968), Dan Senja Pun Turun (1982), Ombak Parangtritis (1983; mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1983), Bukit Harapan (1984; pemenang hadiah Sayembara Mengarang Roman DKJ 1980).


Nh. Dini dilahirkan di Semarang, Jawa Tengah, 29 Februari 1936. Karya-karyanya: Dua Dunia (1956), Hati yang Damai (1961), Pada Sebuah Kapal (1973), La Barka (1975), Keberangkatan (1977), Namaku Hiroko (1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Sekayu (1981), Amir Hamzah Pangeran dari Seberang (1981), Kuncup Berseri (1982), Tuileries (1982), Segi dan Garis (1983), Orang-orang Tran (1985), Pertemuan Dua Hati (1986), Jalan Bandungan (1989), Liar (1989; perubahan judul kumpulan cerita pendek Dua Dunia), Istri Konsul (1989), Tirai Menurun (1995), Panggilan Dharma Seorang Bhikku Riwayat Hidup Saddhamma Kovida Vicitta Bhanaka Girirakkhitto Mahathera (1996), Kemayoran (2000).


Nugroho Notosusanto dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah 15 Juli 1931, dan meninggal di Jakarta, 2 Juni 1985. Karya-karya sastrawan dan sejarawan yang pernah menjabat Rektor Universitas Indonesia (1982-85) dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1983-85) ini antara lain: Hujan Kepagian (1958), Tiga Kota (1959), Rasa Sayang (1961), Hijau Tanahku Hijau Bajuku (1963), Norma-norma dasar Penelitian Sejarah Kontemporer (1978), Tentara Peta pada Zaman Pendudukan Jepang (1979), Sejarah dan Sejarawan, Tercapainya Konsesus Nasional 1966-1969 (1985), Sejarah Nasional Indonesa I-IV (bersama Marwati Djoened Poesponegoro), dan sejumlah karya terjemahan. 


Nur Sutan Iskandar dilahirkan di Maninjau, Sumatera Barat, 3 November 1893, dan meninggal di Jakarta, 28 November 1975. Menulis novel Apa Dayaku karena Aku Perempuan (1922),  Karam dalam Gelombang Percintaan (1924; ditulis bersama Abd. Ager). Cinta yang Membawa Maut (1926; ditulis bersama Abd. Ager), Salah Pilih (1928), Karena Mentua (1932), Tuba Dibalas dengan Air Susu (1933; ditulis bersama Asmaradewi); Hulubalang Raja (1934), Katak Hendak Menjadi Lembu (1935), Dewi Rimba (1935; ditulis bersama M. Dahlan), Neraka Dunia (1937), Cinta dan Kewajiban (1940; ditulis bersama L. Wairata), Cinta Tanah Air (1944), Mutiara (1946), Cobaan (1946), Jangir Bali (1946), Pengalaman Masa Kecil (1949), dan Turun ke Desa (1949).  Ia pun menerjemahkan sejumlah karya sastra dunia, yaitu: Tiga Panglima Perang (1925; Alexander Dumas), Belut Kena Ranjau (1925; Baronese Orczy), Anjing Setan (1928; A. Conan Doyle), Graaf de Monte Cristo (1929; 6 jilid, Alexander Dumas), Anak Perawan di Jalan Sunyi dan Rahasia Seorang Gadis (1929; A. Conan Doyle, diterjemahkan bersama K. St. Pamoentjak), Gudang Intan Nabi Sulaiman (1929; H. Rider Haggard), Memperebutkan Pusaka Lama (1932; Edward Keyzer), Iman dan Pengasihan (1933; Henryk Sienkiewicz), dan Cinta dan Mata (tt; Rabindranath Tagore).


Piek Ardijanto Soeprijadi dilahirkan di Magetan, Jawa Timur, 12 Agustus 1929. Karya-karya penyair yang mengabdikan sebagian besar usianya sebagai seorang guru ini antara lain: Burung-burung di Ladang (1983), Percakapan Cucu dengan Neneknya (1983), Desaku Sayang (1983), Lagu Bening dari Rawa Pening (1984; mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P & K 1984), Menyambut Hari Sumpah Pemuda (1984), Lelaki di Pinggang Bukit (1984), Nelayan dan Laut (1995), Biarkan Angin Itu (1996). Selain itu, dimuat pula dalam antologi Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968; H.B. Jassin [ed.]), Tonggak 2 (1987; Linus Suryadi AG [ed.]).


Pramudya Ananta Toer dilahirkan di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925. Novelis Indonesia paling produktif dan terkemuka yang pernah meredakturi ruang kebudayaan “Lentera” Harian Rakyat (1962-65) dan dosen di Universitas Res Publica Jakarta ini, setelah peristiwa G30S/PKI ditahan di Jakarta dan Pulau Buru sebelum akhirnya dibebaskan pada 1979. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, antara lain: Inggris, Perancis, Jerman, Rusia, Jepang. Novel-novelnya yang telah diterbitkan: Kranji-Bekasi Jatuh (1947), Perburuan (1950; pemenang Hadiah Pertama Sayembara Balai Pustaka 1949), Keluarga Gerilya (1950), Mereka yang Dilumpuhkan (1951), Bukan Pasar Malam (1951), Di Tepi Kali Bekasi (1951), Gulat di Jakarta (1953), Maidah, Si Manis Bergigi Emas (1954), Korupsi (1954), Suatu Peristiwa di Banten Selatan (1958; menerima Hadiah Sastra Yayasan Yamin 1964, dan ditolak pengarangnya),  Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), Gadis Pantai (1985), Rumah Kaca (1987), Arus Balik (1995), Arok Dedes (1999). Cerita-cerita pendeknya dikumpulkan dalam: Subuh (1950), Percikan Revolusi (1950), Cerita dari Blora (1952; memperoleh Hadiah Sastra Nasional BMKN 1952), Cerita dari Jakarta (1957; meraih Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957-58, dan ditolak oleh penulisnya). Sedangkan karya-karya terjemahannya antara lain: Tikus dan Manusia (1950; John Steinbeck), Kembali kepada Cinta Kasihmu (1950; Leo Tolstoy), Perjalanan Ziarah yang Aneh (1956; Leo Tolstoy), Kisah Seorang Prajurit Soviet (1956; Mikhail Solokhov), Ibu (1956; Maxim Gorky), Asmara dari Rusia (1959; Alexander Kuprin), Manusia Sejati (1959; Boris Pasternak). Selain itu, ia juga menulis memoar, esai, dan biografi. 


Putu Wijaya dilahirkan di Tabanan, Bali, 11 April 1944. Karya-karya dramawan dan penulis cerita pendek paling produktif di Indonesia yang atas undangan Fulbright pernah mengajar di Amerika Serikat antara 1985-89 antara lain: Telegram (1972; novel yang memenangkan hadiah Sayembara Mengarang Roman DKJ 1971), Stasiun (1977; novel pemenang hadiah Sayembara Mengarang Roman DKJ 1971), Dar-Der-Dor (1996), Aus (1996), Zigzag (1996), Tidak (1999). Sejumlah karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Rusia, Perancis, Jerman, Jepang, Arab, dan Thailand. Pada tahun 1991, atas prestasi dan pencapaiannya dalam bidang kebudayaan, ia menerima Anugerah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.


Rahim Qahhar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 29 Juni 1943. Menulis puisi, cerita pendek, drama, novel, dan skenario televisi. Karya-karyanya: Mabukku pada Bali (1983), Abraham ya Abraham (1984), Langit Kirmizi (1987; terbit di Malaysia), Melati Merah (1988; terbit di Malaysia), Sajak Buat Saddam Husein (1991). Selain itu, karyanya dimuat pula dalam sejumlah antologi penting, antara lain: Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991; Suratman Markasan [ed.]).


Ramadhan KH dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, 16 Maret 1927. Mantan redaktur majalah Kisah, Siasat Baru, dan Budaya Jaya yang banyak menulis buku biografi dan pernah lama mukim di luar negeri ini adalah penulis kumpulan puisi Priangan si Jelita (1958; memenangkan Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957-58), dan novel-novel Kemelut Hidup (1976; pemenang Sayembara Mengarang Roman DKJ 1974), Keluarga Permana (1978; pemenang Sayembara Mengarang Roman DKJ 1976). Novelnya yang lain, Ladang Perminus, membawa pengarang ini ke Thailand, menerima SEA Write Award 1993.


Rayani Sriwidodo dilahirkan di Kotanopan, Sumatera Utara 6 November 1946. Cerpennya “Balada Satu Kuntum” memperoleh penghargaan Nemis Prize dari Pemerintah Chile (1987). Karya-karya alumna Iowa Writing Program, Iowa University, Amerika Serikat ini antara lain: Pada Sebuah Lorong (1968; bersama Todung Mulya Lubis), Kereta Pun Terus Berlalu, Percakapan Rumput, Percakapan Hawa dan Maria (1989), Balada Satu Kuntum (1994), Sembilan Kerlip Cermin (2000).


Rendra dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935. Sepulang memperdalam pengetahuan drama di American Academy of Dramatical Arts, ia mendirikan Bengkel Teater. Sajak-sajaknya mulai dikenal luas sejak tahun 1950-an. Antara April-Oktober 1978 ditahan Pemerintah Orde Baru karena pembacaan sajak-sajak protes sosialnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kumpulan puisinya: Balada Orang Tercinta (1956; meraih Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-56), Empat Kumpulan Sajak (1961), Blues untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1983), Disebabkan oleh Angin (1993), Orang-orang Rangkasbitung (1993), Perjalanan Bu Aminah (1997), Mencari Bapak (1997). Buku-buku puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, yaitu: Indonesian Poet in New York (1971; diterjemahkan Harry Aveling, et.al.), Rendra: Ballads and Blues (1974; Harry Aveling, et.al.), Contemporary Indonesian Poetry (1975; diterjemahkan Harry Aveling). Ia pun menerjemahkan karya-karya drama klasik dunia, yaitu: Oidipus Sang Raja (1976), Oidipus di Kolonus (1976), Antigone (1976), ketiganya karya Sophocles, Informan (1968; Bertolt Brecht), SLA (1970; Arnold Pearl). Pada 1970, Pemerintah RI memberinya Anugerah Seni, dan lima tahun setelah itu, ia memperoleh penghargaan dari Akademi Jakarta.


Rusli Marzuki Saria dilahirkan di Bukittinggi, Sumatera Barat, 26 Februari 1936. Karya-karyanya: Pada Hari Ini pada Jantung Hari (1966), Monumen Safari (1966; dengan Leon Agusta), Ada Ratap Ada Nyanyi (1976), Sendiri-sendiri Sebaris-sebaris dan Sajak-sajak Bulan Februari (1976), Tema-tema Kecil (1979), Sembilu Darah (1995), Parewa, Sajak dalam Lima Kumpulan (1988). Manuskrip esainya: Monolog dalam Renungan.


Rustam Effendi dilahirkan di Padang, 13 Mei 1903, dan meninggal di Jakarta, 24 Mei 1979. Bebasari yang ditulisnya pada 1926 merupakan drama bentuk baru dalam sastra Indonesia. Selain itu ia menulis kumpulan puisi Percik Permenungan (1926) dan Van Moskow naar Tiflis (tt.)


Saini K.M. dilahirkan di Sumedang, Jawa Barat, 16 Juni 1938. Penyair yang bertahun-tahun mengasuh rubrik “Pertemuan Kecil” di Pikiran Rakyat Bandung ini terakhir menjabat Direktur Jenderal Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sejumlah penyair yang lahir dan berkembang dari kelembutan dan ketajaman kritiknya di “Pertemuan Kecil” antara lain: Sanento Yuliman, Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Soni Farid Maulana, Beni Setia, Cecep Syamsul Hari. Karya-karyanya meliputi puisi, karya sastra drama, dan esai, di antaranya: Pangeran Sunten Jaya (1973), Ben Go Tun (1977), Egon (1978), Serikat Kaca Mata Hitam (1979), Sang Prabu (1981), Kerajaan Burung (1980; pemenang Sayembara Direktorat Kesenian Depdikbud), Sebuah Rumah di Argentina (1980), Pangeran Geusan Ulun (1963), Nyanyian Tanah Air (1968), Puragabaya (1976), Siapa Bilang Saya Godot (1977), Restoran Anjing (1979), Rumah Cermin (1979), Beberapa Gagasan Teater (1981), Panji Koming (1984), Beberapa Dramawan dan Karyanya (1985), Ken Arok (185), Apresiasi Kesusastraan (1986; bersama Jakob Sumardjo [ed.]), Protes Sosial dalam Sastra (1986), Teater Modern Indonesia dan Beberapa Masalahnya (1987), Sepuluh Orang Utusan (1989), Puisi dan Beberapa Masalahnya (1993; Agus R. Sarjono [ed.]). Buku terakhirnya yang merupakan seleksi dari seluruh kumpulan puisinya yang sudah maupun yang belum dipublikasikan adalah Nyanyian Tanah Air (2000).


Sanento Yuliman dilahirkan di Banyumas, Jawa Tengah, 14 Juli 1941, dan meninggal di Bandung, 14 Juli 1992. Pada 1981 menyelesaikan program doktoralnya di Ecole de Hautes Etudes en Science Sociale, Paris, Perancis. Penyair yang juga dikenal sebagai penulis esai dan kritikus seni rupa yang disegani ini pernah menjadi redaktur Mahasiswa Indonesia, majalah sastra Horison (1971-73), dan Aktuil, khususnya untuk ruang “Puisi Mbeling”.  Puisi-puisinya diangkat Ajip Rosidi ke dalam Laut Biru Langit Baru (1977). Karya-karyanya antara lain: Seni Rupa Indonesia (1976), G. Sidharta di Tengah Seni Rupa Indonesia (1981; bersama Jim Supangkat).


Sanusi Pane dilahirkan di Muara Sipongi, Sumatera Utara, 14 November 1905, dan meninggal di Jakarta, 2 Januari 1968.  Antara tahun 1931-41, pernah menjadi redaktur di majalah Timbul, harian Kebangunan, dan Balai Pustaka. Karya-karyanya meliputi puisi, drama, sejarah, dan terjemahan: Pancaran Cinta (1926), Puspa Mega (1927), Airlangga (1928), Burung Garuda Terbang Sendiri (1929), Madah Kelana (1931), Kertajaya (1932), Sandyakalaning Majapahit (1933), Manusia Baru (1940), Sejarah Indonesia (1942), Indonesia Sepanjang Masa (1952), Bunga Rampai dari Hikayat Lama (1946; terjemahan dari bahasa Kawi), Arjuna Wiwaha (1940; Mpu Kanwa, diterjemahkan dari bahasa Kawi), Gamelan Jiwa (1960).


Sapardi Djoko Damono dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 20 Maret 1940. Puisi-puisi pengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia sejak 1975 dan pernah aktif sebagai redaktur majalah sastra-budaya Basis, Horison, Kalam, Tenggara (Malaysia) ini adalah: Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983; mendapat Hadiah sastra DKJ 1983), Sihir Hujan (1984; pemenang hadiah pertama Puisi Putera II Malaysia 1983), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-ayat Api (2000). Sedangkan karya-karya sastra dunia yang diterjemahkannya: Lelaki Tua dan Laut (1973; Ernest Hemingway), Sepilihan Sajak George Seferis (1975), Puisi Klasik Cina (1976), Lirik Klasik Parsi (1977), Afrika yang Resah (1988; Okot p’Bitek).


Satyagraha Hoerip dilahirkan  di Lamongan, Jawa Timur, 7 April 1934, dan meninggal di Jakarta, 14 Oktober 1998.  Tahun 1972-73, ia mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, dan pernah menjadi dosen tamu di universitas-universitas di Amerika dan Jepang. Karya-karyanya antara lain: Bisma Baneng Mayapada (1960), Sepasang Suami Isteri (1964), Antologi Esai tentang Persoalan Sastra (1969), Cerita Pendek Indonesia 1-3 (1979), Jakarta: 30 Cerita Pendek Indonesia 1-3 (1982), Palupi (1970), Keperluan Hidup Manusia (1963; terjemahan dari Leo Tolstoy), Tentang Delapan Orang (1980), Sesudah Bersih Desa  (1990), Sarinah Kembang Cikembang (1993).


Selasih dilahirkan di Talu, Sumatera Barat, 31 Juli 1909, dam meninggal pada usia 86 tahun. Sastrawan yang pernah menjadi Ketua Jong Islamieten Bond Bukittingi (1928-30) dikenal pula sebagai Sariamin atau Seleguri. Karya-karyanya: Kalau Tak Untung (1933), Pengaruh Keadaan (1937), Rangkaian Sastra (1952), Panca Juara (1981), Nakhoda Lancang (1982), Cerita Kak Mursi, Kembali ke Pangkuan Ayah (1986), dan dimuat pula dalam Puisi Baru (1946; Sutan Takdir Alisjahbana [ed.]), Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (1979; Toeti Heraty [ed.]), Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (Korrie Layun Rampan [ed.]).


Seno Gumira Ajidarma dilahirkan di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958. Karya-karya penulis cerita pendek yang sejak 1985 bekerja di majalah Jakarta Jakarta ini antara lain: Mati Mati Mati (1978), Bayi Mati (1978), Catatan Mira Sato (1978), Manusia Kamar (1978), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (1994; kumpulan cerita pendek terbaik versi Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud RI 1994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Negeri Kabut (1996), Jazz, Parfum, dan Insiden (1992). Cerpennya, “Pelajaran Mengarang”, dipilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1992, dan cerpen-cerpennya yang lain hampir setiap tahun terpilih masuk dalam antologi cerpen terbaik surat kabar itu. Pada 1995 ia memperoleh penghargaan SEA Write Award.


Slamet Sukirnanto dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, 3 Maret 1941. Karya-karya penyair yang mantan Ketua Presidium KAMI pusat ini adalah: Jaket Kuning (1967), Kidung Putih (1967), Sumur Tanpa Dasar (1971), Kasir Kita (1972), Pemberang (1972), Tengul (1973), Orkes Madun (1974), Gema Otak Terbanting (1974), Bunga Batu (1979), Catatan Suasana (1982), dan Luka Bunga (1993).


SN Ratmana dilahirkan di Kuningan, Jawa Barat, 6 Maret 1936. Tulisan-tulisannya dimuat di Sastra, Horison, Kompas, dan lain-lain. Karya-karyanya yang sudah dibukukan: Sungai, Suara, dan Luka (1981), Asap itu Masih Mengepul (1977). Karyanya  dimuat pula dalam antologi cerpen pemenang Sayembara Kincir Emas Radio Nederland Wereldomroep, Dari Jodoh sampai Supiyah (1975).


Sori Siregar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, 12 November 1939. Ia mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat pada 1970-71, dan pernah bekerja antara lain di BBC London, Radio Suara Malaysia, Matra, Forum Keadilan. Karya-karyanya: Dosa atas Manusia (1967), Pemburu dan Harimau (1972), Senja (1979), Wanita Itu adalah Ibu (1979; novel pemenang hadiah perangsang kreasi Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1978), Di Atara Seribu Warna (1980), Susan (1981), Awal Musim Gugur (1981), Reuni (1982), Telepon (1982; pemenang hadiah harapan Sayembara Mengarang Roman DKJ 1979); Penjara (1992), Titik Temu (1996). Di samping itu ia banyak menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia, baik novel, cerita pendek, maupun drama.


Subagio Sastrowardoyo dilahirkan di Madiun, Jawa Timur, 1 Februari 1924, dan meninggal di Jakarta, 18 Juli 1995. Peraih M.A. dari Departement of Comparative Literature, Yale University, Amerika Serikat ini pernah mengajar di beberapa sekolah menengah di Yogyakarta, Fakultas Sastra UGM, SESKOAD Bandung, Salisbury Teachers College, dan Flinders University, Australia. Cerpennya, “Kejantanan di Sumbing” dan puisinya, “Dan Kematian Makin Akrab”, masing-masing meraih penghargaan majalah Kisah dan Horison. Kumpulan puisinya, Daerah Perbatasan membawanya menerima Anugerah Seni dari Pemerintah RI (1971), sementara Sastra Hindia Belanda dan Kita mendapat Hadiah Sastra dari Dewan Kesenian Jakarta, dan bukunya yang lain, Simfoni Dua, mengantarkannya ke Kerajaan Thailand, menerima Anugerah SEA Write Award. Karya-karyanya yang berupa puisi, esai, dan kritik, diterbitkan dalam: Simphoni (1957), Kejantanan di Sumbing (1965), Daerah Perbatasan (1970), Bakat Alam dan Intelektualisme (1972), Keroncong Motinggo (1975), Buku Harian (1979), Sosok Pribadi dalam Sajak (1980), Hari dan Hara (1979), Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983), Pengarang Modern sebagai Manusia Perbatasan (1992), Dan Kematian Makin Akrab (1995).


Sutan Takdir Alisjahbana dilahirkan di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908, dan meninggal di Jakarta, 17 Juli 1994. Penerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Indonesia dan Universitas Sains Penang (Malaysia) ini pernah menjadi redaktur Panji Pustaka dan Balai Pustaka. Ia pendiri serta pengelola majalah Pujangga Baru. Karya-karya guru besar dan anggota berbagai organisasi keilmuan di dalam dan luar negeri ini antara lain: Tak Putus Dirundung Malang (1929), Dian yang Tak Kunjung Padam (1932), Tebaran Mega (1935), Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia (1936), Layar Terkembang (1936), Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940), Puisi Lama (1941), Puisi Baru (1946), The Indonesian Language and Literature (1962), Kebangkitan Puisi Baru Indonesia (1969), Grotta Azzura (1970-71), The Failure of Modern Linguistics (1976), Perjuangan dan Tanggung Jawab dalam Kesusastraan (1977), Dari Perjuangan dan Pertumbuhan Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia sebagai Bahasa Modern (1977), Lagu Pemacu Ombak (1978), Kalah dan Menang (1978).


Sutardji Calzoum Bachri dilahirkan di Rengat, Riau, 24 Juni 1941. Pada 1974-75 mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat, dan sejak 1979 hingga sekarang menjabat redaktur majalah sastra Horison. Karya-karyanya: O (1973), Amuk (1977; mendapat Hadiah Puisi DKJ 1976-77), Kapak (1979), O Amuk Kapak (1981). Sejumlah puisinya diterjemahkan Harry Aveling dan dimuat dalam antologi berbahasa Inggris: Arjuna in Meditation (1976; Calcutta). Pada 1979 ia menerima anugerah SEA Write Award dan sembilan tahun kemudian dilimpahi Penghargaan Sastra Chairil Anwar. Sebelumnya, peraih penghargaan tertinggi dalam bidang kesusastraan di Indonesia itu adalah Mochtar Lubis.


Taufiq Ismail dilahirkan di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935. Penerima American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat (1956-57), dan lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia, Bogor (1963). Karya-karya penyair penerima Anugerah Seni Pemerintah RI pada 1970 yang juga salah seorang pendiri majalah sastra Horison (1966) dan Dewan Kesenian Jakarta (1968) ini, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Inggris, Jepang, Jerman, dan Perancis.  Buku kumpulan puisinya yang telah diterbitkan: Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al.), Benteng (1966; mengantarnya memperoleh Hadiah Seni 1970), Tirani (1966), Puisi-puisi Sepi (1971), Kota, Pelabuhan, Ladang, Angin, dan Langit (1971), Buku Tamu Museum Perjuangan (1972), Sajak Ladang Jagung (1973), Puisi-puisi Langit (1990), Tirani dan Benteng (1993), dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1999).  Bersama Ali Audah dan Goenawan Mohamad, penyair yang tinggi sekali perhatiannya pada upaya mengantarkan sastra  ke sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi itu menerjemahkan karya penting Muhammad Iqbal, Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam. Sedangkan bersama D.S. Moeljanto, salah seorang seorang penanda tangan Manifes Kebudayaan ini menyunting Prahara Budaya (1994).


Titie Said lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, 11 Juli 1935. Lulus sarjana muda Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1959). Pernah menjadi redaktur majalah Kartini dan memimpin majalah Famili. Novel-novelnya yang telah diterbitkan antara lain: Jangan Ambil Nyawaku (1977), Reinkarnasi, Fatima, Ke Ujung Dunia. Kumpulan cerita pendeknya: Perjuangan dan Hati Perempuan (1962).


Titis Basino dilahirkan di Magelang, Jawa Tengah, 17 Januari 1939. Karya-karya novelis yang cukup produktif ini antara lain: Pelabuhan Hati (1978), Dataran Terjal, Di Bumi Kita Bertemu, di Langit Kita Bersua (1983), Bukan Rumahku (1986), Dari Lembah ke Coolibah (1997), Welas Asih Merengkuh Tajali (1997), Menyucikan Perselingkuhan (1998), Tersenyum Pun Tidak Untukku Lagi (1998), Rumah K. Seribu (1998), Aku Kendalikan Air, Api, Angin, dan Tanah (1998), Mawar Hitam Milik Laras (1999), Garis Lurus, Garis Lengkung (2000).


Toeti Heraty Noerhadi dilahirkan di Bandung, Jawa Barat, 27 November 1933. Sarjana Filsafat dari Rijk Universiteit Leiden ini meraih doktor filsafatnya di Univeristas Indonesia. Karya-karyanya: Sajak-sajak 33 (1973), Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (1979; [ed.]), Mimpi dan Pretensi (1982), Aku dan Budaya (1984), Manifestasi Puisi Indonesia-Belanda (1986; dengan Teeuw [ed.]), Wanita Multidimensional (1990), Nostalgi = Transendensi (1995). Puisi-puisinya dimuat pula dalam Antologi Puisi Indonesia 1997 dan Sembilan Kilap Cermin (2000).


Toha Mochtar dilahirkan di Kediri, Jawa Timur, 17 September 1926, dan meninggal di Jakarta, 17 Mei 1992. Pengarang yang di tahun 1971 bersama Julius R. Siyaranamual dan Asmara Nababan mendirikan majalah Kawanku ini, telah melahirkan sejumlah novel: Pulang (1958; mendapat Hadiah Sastra BMKN 1957-58), Daerah Tak Bertuan (1963; meraih Hadiah Sastra Yamin 1964), Kabut Rendah (1968), Bukan Karena Kau (1968).


Toto Sudarto Bachtiar dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat, 12 Oktober 1929. Penyair yang dikenal dengan dua kumpulan puisinya: Suara (1956; memenangkan Hadiah Sastra BMKN 1957) dan Etsa (1958) ini, juga dikenal sebagai penerjemah yang produktif. Karya-karya terjemahannya antara lain: Pelacur (1954; Jean Paul Sartre), Sulaiman yang Agung (1958; Harold Lamb), Bunglon (1965; Anton Chekov, et.al.), Bayangan Memudar (1975; Breton de Nijs, diterjemahkan bersama Sugiarta Sriwibawa), Pertempuran Penghabisan (1976; Ernest Hemingway), Sanyasi (1979; Rabindranath Tagore). 


Umar Kayam dilahirkan di Ngawi, Jawa Timur, 30 April 1932. Meraih M.A. di Universitas New York (1963), dan Ph.D. dua tahun kemudian dari Universitas Cornell, Amerika Serikat. Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada hingga pensiunnya di tahun 1997 ini adalah anggota penyantun/penasehat majalah sastra Horison sebelum mengundurkan pada 1 September 1993. Pada 1987, ia meraih SEA Write Award. Karya-karyanya: Seribu Kunang-kunang di Manhattan (1972), Totok dan Toni (1975), Sri Sumarah dan Bawuk (1975), Seni, Tradisi, Masyarakat (1981), Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Bangsa (1985), Para Priyayi (1992; mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P dan K 1995), Mangan Ora Mangan Kumpul (1990), Sugih Tanpa Banda (1994), Jalan Menikung (1999). Cerpen-cerpen-cerpennya diterjemahkan Harry Aveling dan diterbitkan dalam Sri Sumarah and Other Stories (1976) dan Armageddon (1976).


Umbu Landu Paranggi dilahirkan di Sumba, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. Bersama Ragil Suwarna Pagolapati, Teguh Ranusastra Asmara, Iman Budhi Santosa, mendirikan Persada Studi Klub, 5 Maret 1969, yang di kemudian hari melahirkan sejumlah penyair. Karya-karya penyair yang terakhir bekerja sebagai redaktur Bali Post ini adalah: Melodia,  Maramba Ruba, Sarang.


Upita Agustine dilahirkan di Pagaruyung, Sumatera Barat, 31 Agustus 1947. Puisi-pusinya dipublikasikan antara lain di Horison. Karya-karyanya: Bianglala (1973), Dua Warna (1975; bersama Hamid Jabbar), Terlupa dari Mimpi (1980), Sunting (1995; bersama Yvonne de Fretes), selain terdapat pula dalam antologi Laut Biru Langit Biru (1977; Ajip Rosidi [ed.]), Tonggak 3 (1987; Linus Suryadi [ed.]), Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia (Korrie Layun Rampan [ed.]). 


Utuy Tatang Sontani dilahirkan di Cianjur, Jawa Barat, 31 Mei 1920, dan meninggal di Moskow, Uni Soviet, 17 September 1979. Karya-karya sastrawan anggota pimpinan LEKRA (1959-65) yang menulis novel dan banyak karya sastra drama ini adalah:  Suling (1948), Bunga Rumah Makan (1984), Tambera (1949), Orang-orang Sial (1951), Awal dan Mira (1952;  mendapat hadiah Sastra Nasional BMKN 1953), Manusia Iseng (1953), Sangkuriang Dayang Sumbi (1953), Sayang Ada Orang Lain (1954), Di Langit Ada Bintang (1955), Selamat Jalan Anak Kufur (1956), Di Muka Kaca (1957), Saat yang Genting (1958; mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957-58), Manusia Kota (1961), Segumpal Daging Bernyawa (1961), Tak Pernah Menjadi Tua (1963), Si Sapar (1964), Si Kampreng (1964), dan terjemahan Selusin Dongeng (1949; Jean de la Fountain).


Wisran Hadi dilahirkan di Padang, Sumatera Barat, Juli 1945. Tahun 1977-78 mengikuti International Writing Program di Iowa University, Amerika Serikat. Karya-karyanya: Simalakama (1975), Anggun Nan Tongga (1978), Putri Bungsu (1978), Tamu (1996), Imam (1977). Sejumlah naskah dramanya berikut ini memenangkan Sayembara Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta: Gaung (1975; hadiah ketiga), Ring (1976; hadiah harapan), Cindur Mata (1977; hadiah harapan); Perguruan (1978; hadiah kedua), Malin Kundang (1985; hadiah harapan), Penyeberangan (1985; hadiah ketiga), Senandung Semenanjung (1986; hadiah perangsang), Pewaris (1981). Pada 1991 Pemerintah Republik Indonesia menganugerahinya Penghargaan Penulis Sastra.

 


Blog EntryDec 31, '06 7:41 AM
for everyone

 

: pram

 

kueja namamu pada nisan kayu_pusaka terakhir naskah perjalananmu,

antara gundukan tanah bisu, kembangkembang tanda kabung dan geram.

kubaca dan kubaca lagi hingga mengeras seluruh getar dalam dada.

dan terpahat juga kehilangan ini.

 

kau yang menggelinding mengeja mesin waktu. mengubur putusasa

dari batanghari yang basah dalam fragmen kelam yang disembunyikan.

dimana mawar bening yang kautanam di pagi hari menjelma kilauan parang

yang memburumu di malam hari.

ketika kegersangan padang bintang meledak. lapar langit.

lapar cahaya bulan. dimana daundaun telinga liar mengering dan mati

ditempa musimmusim keserakahan yang memburu bayangbayangmu

hingga terasing dari bumi manusia yang kaukasih_

 

o nisanmu, lipatan nisanmu bau tanah yang memang telah tercium dari senja

di balik pelipismu kini berangkat membelakangi matahari

ke luar cuaca bumi. kupeluk sunyi nisan kayumu lewat puisi dan kupeluk.

dan kupeluk. . engkaukah itu matahari yang berenang, menguak kedalaman laut,

yang bercerita tentang gelombang,

kemegahan sejarah dan batu karang yang teguh?

                               

diamdiam gemamu memanjang di pantaipantai,

pada ketinggian tebingtebing sukmaku. waktu mengunci batas ruang

 

 

Kemudian Kutulis Puisi

 

apa yang kaukenang sepanjang matamu memandang maha gelombang

bergulunggulung mendapati wajah langit, tumpah ke laut

sedang gumpalangumpalan kabut telah demikian memadat di hatimu.

kudengar laut menepi. hanya suara ombak yang sayup terdengar mengeras-

merobek daun telingaku yang mengering di pantaimu

yang menyimpan deru angin. dan kening kita membentur matahari.

atau apapun itu

kemudian

kutulis puisi

sebelum dayung berpeluk mencari laju menuntaskan pelayaran terakhir

sebelum gelombang menjelma ribuan badai ,dan pasir basah kuyup.

sebab kita tidak pernah benarbenar siap ditelan kehilangan. akan maut

yang meringkus kita, airmata yang bakal bergulunggulung habishabisan

dalam dada kita dengan kecut wajah memilukan

ditempa serpihan perpisahan pada janji, pada perahu dan kabut

yang membawa kita pulang ke langit doa. dan

 

di samping laut, di hadapan matahari yang menyimpan harapan

pada ujung rambutmu, mengapa mesti melupakan ribuan ciuman

yang telah mendedah sayu matamu? berlarian liar seolah keabadian

adalah di batok kepalamu letaknya.

ah,

apa yang membuatmu begitu buta, kekasih tercinta? aku bertanya,

kemudian

kutulis puisi ini   

aku buka sandi-sandi tertutup. kau berdebur ditempa angin

kukulum deburmu. dan peluhmu adalah bait terakhir puisiku.

 

 

Dinding Sunyi Bergetar

 

ini sunyi bergetar

setengah mati

mencari perahu

penyair yang berlari

membawa nganga luka

di pantai terakhir

menghimpun ombak

jadi puisi

yang menari dalam dada

maha amuk dan hempas.

 


Blog EntryDec 31, '06 7:14 AM
for everyone


: sahabatsahabat pergerakan

 

 

Telah berapa banyak dari kita yang terkapar di tanah suci berdarah ini.

Hitunglah. Sejak gumpalangumpalan ini kita namai Indonesia

Bergerak menguak abad demi abad yang disembunyikan

di balik lencanalencana kusut. Kita himpun derap dan makna

Hingga ditembak mati bagi kita hanyalah luapan jiwa sederhana

Mengawal setiap masa yang tumpah ruah bagai anggur. Tak tahu kemana

jarum waktu melesat memburu bayang bayangnya sendiri. Orangorang

jadi banyak yang mabuk, membunuh tanpa tahu hati nurani dan saudara sendiri

Kita iringi semuanya. Segala yang menderu, bersama keheningan hati yang bening dan jiwa telanjang.

Menelanjangi tiap inci rintihan rakyat yang memanggilmanggil

kobaran darah kita yang terlahir sebagai lidah orang kecil

yang lagi dikerdilkan

Setengah mati

Dimana kita adalah gerak. Muasal segala kepalan mawar dan do’a ditegakkan

di bawah langit. ketika dwi-warna merapuh, dan senjanya

yang kacau kian mengental dalam dada, menemu saatsaat kelam membujur

nyeri, dukacita, dan amuk. Gelombang peluh tumpah. dimana suarasuara kita berjatuhan menyulut perjuangan tak bernama. Dan  beribu puisi dan kabung telah tumbuh dam mati dari lubuk hati

 

Katakan, akankah kita mengucapkan selamat malam pada panggilan hati,

Dari puisi yang kian berdarah,kian terkelupas abad demi abad?

 

Sumpah, dunia tiada menyisakan pilihan lagi

Kita bergerak,

membunuh putus asa yang luar biasa gila

 

Kita Dan Negeri Ini telah Diperkosa

 “Inikah keajaiban senggama? Memuncak. Lalu pada akhirnya

kita harus terkapar. Menyerah habis habisan pada keserakahan.”

 

Menyerahkan sekucur tubuh pada dunia

Melucuti celana dalam di depan hidunghidung belang

untuk langsung menanamkan peluru dan cakarcakarnya

yang beringas dan tajam. Tak peduli di bawah ranjang

berjuta jeritan mengaduh pedih mengejar telinga

yang (barangkali) masih bisa dipakai mendengar. Dan kita kesepian dan pilu,

terperangah memandang dari daun jendela yang semakin mengering.

Tumpah ke bumi. Terperangkap di antara cuacacuaca bekas senggama.

Kita cuma berlari lari kecil di kaki ranjang

 

yang mulai berpesta. Bercerita kepuasan. Kita sungguh tak peduli

kapan keperawanan kita dan negeri ini harus pasti dipertanyakan.

 

 

Laut asal

ada seorang gadis pemulung

terhuyung huyung melewati istana negara

dengan tatapannya yang dibekukan dan terlunta-lunta

meredam ngilu dan nganga pedih detak jantung,

hembusan nafas dan kaleng tua yang berkarat

dimasukkan ke dalam karung hingga penuh

lalu pulang ke laut asal.

ia tergeletak              

merangkak_menterjemah getar angin

yang tergantung di wajahnya.

lekuk lekuk suaranya

yang menyimpan gumpalan kabut

terpendar

mendendangkan nestapa panjang

tak tercatat

di akar langit

tiada biru. putih mati.

merah padam

tergambar jelas di bening keringatnya

yang berkejaran bersama matahari

 

gadis itu terlempar jauh dari kaki bianglala

hanya giginya yang kekuningan

sesekali menggaris kekosongan yang gersang

siang itu

tertatihtatih dibalut sepotong keheningan

dan pakaian kumal mengucur ombak

 

ada seorang gadis pemulung

pulang ke laut asal

: airmata

 

Anak-Anakmu Telah Henti Bernyanyi

kami tidak tahu lagi apa yang mesti kami katakan

kepadamu yang menyimpan gumpalan gumpalan kabut

yang mengeras di pelupuk senja

 

“bernyanyilah tentangku. nak!” lirihmu suatu hari

ketika orangorang sibuk menabur dengkur yang panjang

”tapi sedikit pun, bu. kami tidak mengerti lagi bagaimana harus

bernyanyi tentangmu.”

 

; anak anakmu telah henti bernyanyi.

 

dan apa lagi yang harus kami akui di saat-saat

menggigil seperti ini . burung putih suci yang (katanya) perkasa itu

telah cukup bosan memamah pagi.

cakar cakarnya  merapuh seperti menunggu untuk dipanggang.

sayapsayap dan bululeher  berhamburan. entah kemana. sementara

setumpuk rencana tertunda berjubel jubel bersahutan mengendap

di punggungnya. barangkali yoko,

atau brama kumbara sekalipun tak akan sudi menungganginya.

 

; anak anakmu telah henti bernyanyi

 

dan mereka bakal kelabakan, ketika ditanya kapan sebenarnya

untuk yang pertama kali  kau terbang bebas memeluk cakrawala.

 

“carilah tubuhku kemudian rengkuh,nak!” lirihmu melanjutkan sambil

menghempas gumpalan kabut yang menelan seluruh tubuhmu. tapi sia sia.

suara suaramu yang berlarian mengejarku tersekat di akar langit

 

dan apa lagi yang harus kami katakan padamu di bawah matahari

yang telah beranjak pergi tanpa sisasisa cahaya?!

bahwa dari kami telah banyak yang tidak peduli akan sumpah

masa silam, di cahaya bulan oktober.; tanahair tanpa aimata

dan entah apa lagi, seperti palapa,

yang mengepal setiap gumpalan hati mahapatih. namun akhirnya

melebur juga igigit ngilu waktu yang pedih. sumpahsumpah itu

tersekat dalam petimati kedap suara, dibungkus topengtopeng

keserakahan mahabejat. jadi serapah! jadi sampah!

 

ibu. ibu pertiwiku yang sayu detak jantung. kami sebut kau negeri

karena tatapanmu yang menjaga tubuhtubuh telanjang

yang sekarat di rerumputan. namun ketajaman cinta macam apa lagi

yang bakal kami tujukan kepadamu. kutulis puisi ini.  kau tandus.

tubuhmu ditelan kabut. lipatan gelombang bersiap menghantam

warnamu yang kabur waktu senja. berkejaran dengan cuaca

bekas kenangan yang tercecer di gununggunung, ngarai dan ombak.

bersahutan.

anak anakmu telah henti bernyanyi.

 


LinkDec 26, '06 12:10 AM
for everyone




Blog EntryDec 22, '06 3:35 PM
for everyone

ini pagi tidak biasa menggantung mata yang letih di reruntuhan malam.

kabut tampak lengang dan suram. dan ada yang terasa menepi dari kebisingan

yang terkesan basabasi.

 

kurangkul segala harap akan langit secerah embun dalam pertapaan waktu yang kusam.

suara daunjatuh tiada terdengar lagi dari lubuk ranting

pada penantiannya menggapai sisacahaya bulan subuh ini. pohon tumbang. dan

 

apa kau tahu juga sebuah cerita yang menggantung di sebuah tali

pada tiang kehidupan yang hendak runtuh? dimana sejumlah perawan tak dikenal

berjaga di sebuah persimpangan batukarang, di penghujung pesta srigala dilumuri laut tumpah.

mimpi serapah ombak

 

aku hanya nelayan kecil yang ingin menutup mata dengan tenang

di sebuah senjahari yang biasa. dan dalam girang memeluk pari dan tali di pantai terakhir

persetubuhan pasir dan nyanyian rumputliar


Blog EntryDec 22, '06 3:07 PM
for everyone
1000 Laut tumpah
Seluruh api tenggelam dalam sunyi
 
yang bergetar.
kekasihku, kenapa masih kausimpan sirip hiu di hatimu
setelah ombak berabadabad menghantam kita hingga usang?

Dari Cerita Yang Dilipat

kita telah lelah berkabung. pertemuan dengan dambaanmu
hanyalah ucapan selamat malam yang biasa.
sebab dunia tiada pernah berganti selain gelap
yang menggerayang di balik gumpalangumpalan kabut di langit doa_
kau simpan matahari dalam degupmu padaku.
kau tahu, senja telah menunggu di balik pintu kamar kita
sebelum pagi menukik embun yang gelisah.
cahaya di setiap sudut akan sunyi kembali
dan cerita ini telah berabad_abad kita lipat
di sebuah rak buku dekat meja makan.

 

 


Blog EntryDec 22, '06 2:48 PM
for everyone

aku tidak mengatakan ini tentang laut atau batu karang yang teguh.
ini malam langit runtuh. daunjatuh dan dunia yang mendadak sunyi.
aku tibatiba terkenang ombak, kapal dan musim panas yang tiada tertambat di dasar hati.
di dalam kamar, sofhie tanpa henti menirukan orkes sakit hati slank sambil menarik tali bh_nya, ranjang yang riuh
suara bercak air yang tidak tahu dari mana bernyawa. dan titikdarah
setengah mati
mencari dunia bungamawar yang mati di penghujung musim panas.
tibatiba aku terkenang fina dan ari, bungamatahari dan matahari di malam hari.
aku terkenang seluruh suara yang membelaiku dengan dahaga akan
dunia kupukupu yang meledak desember ini.
aku ingin tenggelam dalam gelombang
dan menyanyikan sebuah lagu untuk bubi
ini malam langit runtuh